Presiden RI Prabowo Subianto langsung memimpin rapat penanganan gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam kunjungan kerjanya di Nagekeo, NTT, Kamis (27/8/2026). Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com dengan judul Banyak Rakyat Masih Bakar Hutan, Prabowo Dorong Penghijauan di NTT , https://wartakota.tribunnews.com/nasional/899443/banyak-rakyat-masih-bakar-hutan-prabowo-dorong-penghijauan-di-ntt#google_vignette. Editor: Joanita Ary
NAGEKEO(marwahkepri.com) – Presiden RI Prabowo Subianto mendorong percepatan penghijauan di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai salah satu langkah untuk memperbaiki kondisi lingkungan sekaligus menjaga ketersediaan air.
Prabowo meminta pemerintah pusat dan daerah tidak hanya menggelar kegiatan penanaman pohon, tetapi membangun sistem penghijauan yang berkelanjutan, mulai dari penyediaan bibit hingga memastikan tanaman dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Hal tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin rapat penanganan gempa NTT dalam kunjungan kerjanya di Nagekeo, Kamis (27/8/2026).
Menurut Prabowo, pemerintah perlu membangun pusat pembibitan di tingkat provinsi maupun kabupaten. Keberadaan pusat pembibitan dinilai penting agar kebutuhan tanaman untuk program penghijauan dapat tersedia secara berkelanjutan.
Selain tanaman untuk memulihkan tutupan vegetasi, Prabowo mendorong penanaman pohon produktif di lahan-lahan terbuka. Dengan cara tersebut, penghijauan diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Kalau kita tanam pohon-pohon produktif, masyarakat juga akan mendapatkan manfaatnya,” ujar Prabowo dalam rapat tersebut.
Presiden juga menyoroti kondisi tutupan pohon di sejumlah wilayah NTT yang semakin berkurang. Salah satu persoalan yang masih terjadi adalah praktik pembukaan lahan dengan cara membakar hutan dan lahan.
Prabowo menilai kebiasaan tersebut perlu dihentikan melalui edukasi dan pemberian alternatif kepada masyarakat.
“Saya tahu rakyat di sini banyak bakar hutan,” kata Prabowo.
Menurutnya, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan memberikan larangan. Masyarakat perlu mendapatkan pemahaman mengenai dampak pembakaran hutan sekaligus pendampingan agar dapat mengelola lahan dengan metode yang lebih ramah lingkungan.
Prabowo juga menekankan penerapan konsep permaculture atau pertanian berkelanjutan. Pola pengelolaan lahan tersebut dinilai dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat sehingga pemanfaatan lahan tetap berjalan tanpa mengorbankan kelestarian alam.
Konsep tersebut juga diharapkan membantu menjaga ketersediaan air di wilayah NTT yang selama ini menghadapi persoalan kekeringan.
Prabowo mengingatkan agar program penghijauan tidak berhenti pada kegiatan simbolis. Setiap pohon yang ditanam harus mendapatkan perawatan sehingga dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Karena itu, pemerintah daerah diminta berperan aktif dengan menyiapkan lahan, membangun pusat pembibitan, serta memberikan pendampingan kepada masyarakat.
Upaya tersebut diharapkan dapat menciptakan pola pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan. Masyarakat tetap dapat memanfaatkan lahan untuk kebutuhan pertanian, sementara fungsi lingkungan dan sumber-sumber air tetap terjaga.
Bagi NTT, pemulihan tutupan vegetasi menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan kekeringan dan keterbatasan air. Penghijauan yang dilakukan secara terencana diharapkan dapat memperkuat ketahanan lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Prabowo menegaskan bahwa perubahan kondisi lingkungan membutuhkan proses panjang. Karena itu, keberhasilan program penghijauan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah dan masyarakat menjaga tanaman tersebut agar terus tumbuh.
Dengan pendekatan tersebut, penghijauan di NTT diharapkan tidak sekadar menjadi program penanaman pohon, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga air, memperbaiki lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. MK-komp
Redaktur : Munawir Sani
