Ilustrasi (f: istock)
RIYADH (marwahkepri.com) – Tragedi penerbangan Saudia Flight 163 di Arab Saudi pada 19 Agustus 1980 menjadi salah satu kecelakaan pesawat paling memilukan dalam sejarah penerbangan. Pesawat yang membawa 301 orang itu sebenarnya berhasil melakukan pendaratan darurat setelah mengalami kebakaran. Namun, seluruh penumpang dan awak justru meninggal dunia sebelum berhasil dievakuasi.
Berdasarkan laporan resmi Saudi Presidency of Civil Aviation, pesawat yang terlibat adalah Lockheed L-1011 TriStar dengan nomor registrasi HZ-AHK. Pesawat milik Saudi Arabian Airlines tersebut sedang menjalani penerbangan dari Riyadh menuju Jeddah.
Saat kejadian, terdapat 287 penumpang, termasuk 15 bayi, serta 14 awak pesawat di dalamnya.
Alarm Asap Berbunyi Tak Lama Setelah Lepas Landas
Masalah mulai terdeteksi sekitar 6,5 menit setelah pesawat lepas landas dari Bandara Riyadh. Alarm peringatan asap memberikan indikasi adanya gangguan di kompartemen kargo bagian belakang.
Teknisi penerbangan kemudian mengonfirmasi adanya asap dan kebakaran di area kabin belakang. Menyadari situasi semakin berbahaya, kapten memutuskan membatalkan perjalanan menuju Jeddah dan kembali ke Riyadh.
Tim pemadam kebakaran bandara pun diminta bersiaga untuk menghadapi kemungkinan pendaratan darurat.
Dalam situasi tersebut, kapten juga melaporkan bahwa tuas daya mesin nomor dua mengalami masalah karena tersangkut. Mesin tersebut kemudian dimatikan, sementara api di bagian belakang pesawat dilaporkan terus membesar.
Pesawat Mendarat, tetapi Evakuasi Terlambat
Pesawat akhirnya berhasil mendarat di Landasan 01 Bandara Riyadh. Pendaratan berlangsung normal, tetapi pesawat tidak langsung berhenti di landasan pacu.
Alih-alih melakukan penghentian darurat di landasan, pesawat berbelok menuju jalur taxiway dan baru berhenti setelah meninggalkan landasan pacu.
Namun, situasi di dalam pesawat ternyata jauh lebih buruk. Asap tebal telah menyebar ke bagian kabin, sementara api terus mengancam keselamatan seluruh orang di dalamnya.
Menurut laporan kecelakaan, petugas pemadam kebakaran baru berhasil membuka pintu kanan R2 dari luar sekitar 23 menit setelah mesin dimatikan, atau sekitar 26 menit setelah pesawat berhenti.
Ketika pintu berhasil dibuka, kabin telah dipenuhi asap tebal dan tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan. Tidak lama kemudian, api melahap seluruh bagian interior pesawat.
Tragedi tersebut menewaskan seluruh 301 orang di dalam pesawat. Tidak ada satu pun penumpang maupun awak yang berhasil diselamatkan.
Asap Beracun Jadi Faktor Fatal
Hasil pemeriksaan autopsi dan toksikologi menunjukkan para korban meninggal akibat kombinasi paparan asap dan kondisi ekstrem di dalam pesawat.
Paparan gas beracun, termasuk karbon monoksida dan hidrogen sianida, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kematian. Korban juga mengalami gangguan pernapasan akibat menghirup asap, paparan panas tinggi, serta kekurangan oksigen.
Kebakaran diketahui bermula dari kompartemen kargo C-3 di bagian belakang pesawat. Meski demikian, penyelidikan tidak berhasil memastikan sumber awal yang memicu munculnya api.
Tragedi Saudia Flight 163 menjadi pengingat kelam bahwa keberhasilan sebuah pesawat melakukan pendaratan darurat belum tentu menjamin keselamatan orang-orang di dalamnya. Dalam kondisi kebakaran pesawat, kecepatan evakuasi menjadi faktor yang sangat menentukan. MK-dtc
Redaktur : Munawir Sani
