Masjid Agung Natuna yang direncanakan direvitalisasi melalui skema pendanaan hibah luar negeri.
NATUNA (marwahkepri.com) – Kabar tentang suntikan dana hibah Rp 90 miliar dari luar negeri untuk revitalisasi Masjid Agung Natuna, memunculkan tanda tanya besar.
Masjid kebanggaan masyarakat Natuna yang dikenal dengan arsitektur megah berkubah 20 itu memang telah menua dan membutuhkan perawatan serius.
Namun, keterbatasan anggaran daerah membuat Pemerintah Kabupaten Natuna belum mampu mengalokasikan dana besar untuk revitalisasi melalui APBD.
Belakangan, muncul narasi bahwa ada sebuah negara sahabat yang telah bersedia untuk menggelontorkan dana hibah.
Informasi tersebut menyebar cepat, memantik harapan sekaligus spekulasi. Publik pun bertanya-tanya, apakah ini komitmen nyata atau sekadar wacana politik?
Hingga kini, identitas negara donor belum pernah diungkap secara terbuka. Bahkan, pihak pengelola masjid sendiri mengaku tidak mengetahui adanya rencana revitalisasi dengan dana luar negeri.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Natuna, Sudirman, dengan tegas mengatakan belum menerima informasi resmi terkait kabar tersebut.
“Revitalisasi pun saya tidak tahu dari mana informasi tersebut,” ujarnya singkat melalui pesan WhatsApp, Rabu, 11 Februari 2026.
“Betul, kami tak dapat informasi,” timpalnya lagi.
Pernyataan itu semakin mempertegas adanya simpang siur informasi di tingkat internal pemerintah daerah.
Namun, seperti dilansir Batamclick.com, Pemkab Natuna di bawah kepemimpinan Bupati Cen Sui Lan telah memprioritaskan perbaikan Masjid Agung. Namun keterbatasan anggaran disebut menjadi kendala utama.
Menghadapi situasi tersebut, Cen Sui Lan dikabarkan memanfaatkan jaringan internasional yang dimilikinya sebagai mantan anggota DPR RI untuk mencari alternatif pendanaan di luar skema APBD dan APBN.
Upaya lobi panjang itu disebut membuahkan hasil pada akhir 2025, ketika satu negara sahabat menyatakan kesediaan memberikan hibah puluhan miliar rupiah.
Saat ini, proses disebut telah memasuki tahap Review and Clearance (RC) sebagai langkah awal menuju pelaksanaan fisik.
Tanpa transparansi mengenai negara pemberi hibah, mekanisme penyaluran, hingga timeline realisasi, publik wajar mempertanyakan kepastian proyek tersebut.
Apakah dana itu benar-benar sudah berkomitmen secara resmi? Ataukah masih sebatas komunikasi awal di meja diplomasi?
Di tengah harapan besar terhadap revitalisasi ikon religi Natuna, misteri negara pendonor miliar rupiah itu masih belum terkuak.(Red)
