yhy

Ilustrasi pelajar yang mengalami depresi. (Foto: iStock)

BATAM (marwahkepri.com) – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sekitar 10 persen atau 700 ribu anak di Indonesia terdeteksi memiliki gejala gangguan kesehatan jiwa berupa kecemasan dan depresi. Temuan tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Data tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan anak melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang merupakan program prioritas pemerintahan Prabowo Subianto.

Budi menjelaskan bahwa sepanjang periode 2025 hingga 2026, program tersebut telah menjangkau sekitar 7 juta anak di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan atau anxiety disorder.

Selain itu, sekitar 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak ditemukan mengalami gejala depresi atau depression disorder.

“Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” kata Budi dalam konferensi pers mengenai upaya pencegahan dan penanganan kesehatan jiwa anak yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Senin (9/3/2026).

Ia menjelaskan kelompok usia 11 hingga 17 tahun menjadi yang paling tinggi mengalami masalah kesehatan mental. Bahkan sebagian dari kelompok tersebut diketahui memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup.

Baca Juga:  210 WNA Terduga Online Scam di Batam Segera Dideportasi ke Negara Asal

Berdasarkan data Global School-Based Student Health Survey, persentase siswa yang pernah berpikir untuk mengakhiri hidup meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023.

Kenaikan yang lebih tajam juga terlihat pada jumlah siswa yang pernah mencoba mengakhiri hidup. Angkanya meningkat dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Karena itu, menurut Budi, persoalan kesehatan mental pada anak perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat. Ia menekankan bahwa penanganan masalah kesehatan mental tidak hanya berfokus pada anak, tetapi juga pada lingkungan sekitar.

“Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga tengah mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di puskesmas yang jumlahnya saat ini masih terbatas, yakni sekitar 203 orang.

Pemerintah juga menyiagakan layanan krisis kesehatan jiwa melalui platform Healing119.id untuk mendukung intervensi cepat terhadap kasus kesehatan mental di masyarakat. MK-mun/dtk

Redaktur: Munawir Sani