Justine Wilson dan Elon Musk. Foto: Internet via Mirror
JAKARTA (marwahkepri.com) – Justine Wilson, mantan istri Elon Musk, mengungkap bagaimana miliarder tersebut diduga menyebut para perempuan yang menjadi ibu dari anak-anaknya.
Dalam wawancara untuk film dokumenter Musk karya sutradara Alex Gibney, Wilson dilaporkan mengatakan bahwa Musk menyebut para perempuan tersebut sebagai “breeders”, istilah yang secara harfiah merujuk pada “pengembangbiak” atau perempuan yang menghasilkan keturunan.
Istilah tersebut dianggap merendahkan karena menggambarkan perempuan semata-mata berdasarkan fungsi reproduksinya.
Dikutip dari HuffPost, Senin (14/9/2026), Wilson pernah menikah dengan Musk pada 2000 hingga 2008. Dari pernikahan tersebut, keduanya memiliki enam anak.
Salah satu anak mereka, Nevada Alexander Musk, meninggal dunia ketika berusia 10 minggu.
Dalam dokumenter tersebut, Wilson juga disebut mengungkap bahwa Musk memandang para perempuan yang menjadi ibu dari anak-anaknya sebagai sosok yang dapat saling menggantikan.
Elon Musk Memiliki 14 Anak
Musk diketahui memiliki anak dari sejumlah perempuan.
Selain enam anak dari pernikahannya dengan Wilson, Musk memiliki tiga anak dengan penyanyi Grimes.
Ia juga memiliki empat anak dengan Shivon Zilis, mantan eksekutif Neuralink, perusahaan yang didirikan Musk.
Sementara itu, Musk memiliki seorang anak dengan mantan influencer sayap kanan Ashley St. Clair.
Dalam wawancaranya untuk dokumenter tersebut, St. Clair mengaku bahwa Musk pernah mengatakan kepadanya bahwa ia ingin memiliki “pasukan anak-anak” sebelum terjadinya perang saudara.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian yang disorot dalam film dokumenter Musk, yang mengangkat kehidupan pribadi sekaligus perjalanan bisnis dan politik Musk.
Elon Musk Serang Film Dokumenter Musk
Musk sendiri diketahui tidak tinggal diam menghadapi dokumenter tersebut.
Setelah film berdurasi sekitar empat jam itu mendapat standing ovation dalam pemutaran perdananya di Festival Film Venesia, Musk melontarkan kritik melalui akun X miliknya.
Ia menyebut film garapan Gibney sebagai sebuah “operasi psikologis” atau psy op.
“Gibney baru saja menyusun daftar orang-orang yang entah memiliki dendam pribadi atau bahkan tidak mengenal saya (tetapi tetap saja menyimpan dendam),” tulis Musk.
Ia kemudian menyerang kredibilitas sang sutradara.
“Dia sama sekali tidak punya integritas. Manusia yang buruk,” lanjutnya.
Musk juga mengancam akan mengambil langkah hukum terkait bagian dokumenter yang menyiratkan dirinya melakukan intervensi dalam pemilihan presiden Amerika Serikat 2024 melalui jaringan satelit Starlink.
Dalam surat yang dikirim pengacara Musk, Alex Spiro, kepada perusahaan produksi dokumenter tersebut, disebutkan bahwa Musk telah berulang kali menawarkan diri untuk memberikan bantahan terhadap tuduhan terkait kecurangan pemungutan suara.
Menurut pihak Musk, tawaran tersebut tidak ditanggapi oleh Gibney.
Namun, pihak produksi membela film dan kebebasan sang sutradara untuk mengangkat isu mengenai figur publik.
Juru bicara perusahaan produksi Gibney menyatakan bahwa hak untuk melakukan perdebatan terbuka dan pemeriksaan berbasis fakta terhadap tokoh publik dilindungi oleh Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut sekaligus menyindir Musk yang selama ini dikenal menyebut dirinya sebagai pendukung kebebasan berpendapat secara absolut.
Film dokumenter Musk dijadwalkan tayang di bioskop pada 16 Oktober 2026. MK-mun
Redaktur : Munawir Sani
