luar angkasa

Ilustrasi luar angkasa.(f: net)

JAKARTA(marwahkepri.com) – Pernahkah Anda bertanya mengapa luar angkasa terlihat gelap, padahal terdapat Matahari dan miliaran bintang yang memancarkan cahaya?

Jika melihat langit malam dari Bumi maupun foto-foto yang diambil dari luar angkasa, pemandangan yang terlihat hampir selalu sama. Ruang angkasa tampak hitam dengan titik-titik terang berupa bintang, planet, atau objek kosmik lainnya.

Lantas, mengapa luar angkasa tidak tampak terang seperti langit biru pada siang hari di Bumi?

Jawabannya berkaitan dengan atmosfer, cara cahaya bergerak, serta kondisi Alam Semesta yang terus mengembang.

Paradoks Olbers dan Misteri Langit yang Gelap

Pertanyaan mengenai langit yang gelap sebenarnya sudah lama menjadi perdebatan di kalangan astronom. Masalah tersebut dikenal sebagai paradoks Olbers, yang diambil dari nama astronom Jerman Heinrich Olbers.

Secara sederhana, paradoks tersebut mempertanyakan: jika Alam Semesta dipenuhi bintang dalam jumlah sangat banyak, mengapa langit malam tidak dipenuhi cahaya?

Salah satu dugaan awal menyebutkan bahwa cahaya bintang mungkin terhalang oleh materi antarbintang seperti debu dan awan gas.

Namun, penjelasan tersebut tidak cukup. Materi yang terus menyerap energi cahaya seharusnya ikut memanas dan pada akhirnya memancarkan kembali energi tersebut.

Pemahaman mengenai Alam Semesta yang terus mengembang kemudian memberikan bagian penting dari jawabannya.

Alam Semesta Terus Mengembang

Ketika Alam Semesta mengembang, galaksi-galaksi yang sangat jauh dari Bumi juga semakin menjauh.

Cahaya dari objek-objek tersebut mengalami fenomena yang disebut pergeseran merah atau redshift. Panjang gelombang cahaya bergeser ke arah panjang gelombang yang lebih panjang.

Akibatnya, sebagian cahaya dari galaksi yang sangat jauh bergeser keluar dari spektrum cahaya yang dapat ditangkap mata manusia.

Cahaya tersebut dapat bergeser ke wilayah inframerah, gelombang mikro, atau gelombang radio.

Dengan kata lain, bukan berarti Alam Semesta benar-benar tidak memiliki cahaya. Sebagian radiasi elektromagnetik yang ada memang tidak dapat dilihat oleh mata manusia.

Kenapa Langit Bumi Berwarna Biru?

Lalu mengapa langit di Bumi justru tampak biru pada siang hari?

Kuncinya adalah atmosfer Bumi.

Cahaya Matahari yang memasuki atmosfer berinteraksi dengan molekul-molekul gas. Cahaya tersebut kemudian mengalami hamburan ke berbagai arah.

Fenomena ini dikenal sebagai hamburan Rayleigh.

Cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek, seperti biru, lebih mudah mengalami hamburan dibandingkan cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang seperti merah.

Itulah sebabnya cahaya biru tersebar ke berbagai penjuru langit dan membuat mata kita melihat langit berwarna biru.

Luar Angkasa Hampir Tidak Memiliki Atmosfer

Kondisinya berbeda dengan ruang angkasa.

Luar angkasa merupakan lingkungan yang sangat mendekati ruang hampa dan tidak memiliki atmosfer seperti Bumi yang cukup tebal untuk menyebarkan cahaya ke berbagai arah.

Cahaya Matahari tetap bergerak melewati ruang angkasa, tetapi tidak otomatis membuat seluruh ruang di sekitarnya terlihat terang.

Cahaya dapat terlihat ketika masuk langsung ke mata atau ketika berinteraksi dengan suatu objek dan kemudian dipantulkan atau dihamburkan menuju mata kita.

Itulah sebabnya seorang astronaut dapat melihat Matahari dengan sangat terang, sementara latar belakang di sekelilingnya tetap terlihat hitam.

Bagaimana dengan Bulan?

Contoh paling mudah dapat dilihat pada permukaan Bulan.

Bulan hampir tidak memiliki atmosfer. Karena itu, meskipun permukaannya mendapatkan sinar Matahari secara langsung, langit Bulan tetap terlihat hitam.

Foto-foto misi Apollo memperlihatkan kondisi tersebut dengan jelas. Astronaut dapat berdiri di bawah sinar Matahari yang sangat terang, tetapi langit di belakang mereka tetap berwarna hitam.

Hal serupa juga terjadi pada benda langit lain yang tidak memiliki atmosfer tebal.

Mars Punya Langit yang Berbeda

Mars memiliki atmosfer, tetapi jauh lebih tipis dibandingkan atmosfer Bumi.

Atmosfer Mars masih mampu menyebabkan cahaya mengalami hamburan. Debu yang berada di atmosfer Mars juga dapat memengaruhi warna langit.

Akibatnya, langit Mars dapat terlihat memiliki warna kemerahan atau kecokelatan, terutama ketika partikel debu tersebar di atmosfer.

Ini berbeda dengan Bulan yang hampir tidak memiliki atmosfer sehingga langitnya tetap hitam.

Jadi, Kenapa Luar Angkasa Gelap?

Sederhananya, Matahari memang menerangi ruang di sekitarnya, tetapi cahaya tidak membuat ruang angkasa menjadi terang seperti atmosfer Bumi.

Di Bumi, atmosfer menyebarkan cahaya Matahari ke berbagai arah sehingga seluruh kubah langit tampak bercahaya.

Sementara di ruang angkasa yang hampir hampa, cahaya sebagian besar bergerak dalam garis lurus. Tanpa atmosfer atau partikel yang cukup untuk menghamburkan cahaya ke arah mata kita, latar belakang ruang angkasa tetap tampak hitam.

Ditambah lagi, cahaya dari objek yang sangat jauh dapat mengalami pergeseran ke panjang gelombang yang tidak dapat dilihat mata manusia akibat pemuaian Alam Semesta.

Jadi, luar angkasa bukan gelap karena tidak ada cahaya. Luar angkasa terlihat gelap karena hampir tidak ada atmosfer yang menyebarkan cahaya ke segala arah seperti yang terjadi di Bumi. MK-mun

Redaktur : Munawir Sani