Ilustrasi kelelawar sedang diteliti. (f: gemini)
JAKARTA(marwahkepri.com) – Kelelawar kerap dikaitkan dengan wabah penyakit akibat virus, termasuk pandemi COVID-19. Namun secara ilmiah, mengapa hewan ini sering disebut sebagai pembawa berbagai virus?
Di alam liar, kelelawar justru memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Mereka membantu mengendalikan populasi serangga sebagai hama alami, sekaligus berperan dalam proses penyerbukan tanaman dan penyebaran biji.
Secara biologis, kelelawar merupakan kelompok mamalia terbesar kedua di dunia setelah hewan pengerat. Sekitar 20 persen spesies mamalia atau kurang lebih 1.400 spesies adalah kelelawar. Keanekaragaman yang sangat besar ini membuat peluang interaksi mereka dengan berbagai jenis patogen juga semakin tinggi.
Mampu Hidup Berdampingan dengan Virus
Anggota Emerging Pathogens Institute di University of Florida, Jim Wellehan, menjelaskan kelelawar termasuk hewan unik karena mampu hidup berdampingan dengan virus.
Menurutnya, kelelawar telah berevolusi selama lebih dari 50 juta tahun. Dalam proses evolusi panjang tersebut, mereka terpapar berbagai patogen dan mengalami seleksi genetik yang memperkuat sistem imun.
“Hal terpenting adalah memiliki cukup keragaman genetik dalam populasi sehingga ada individu dengan gen kekebalan yang efektif melawan patogen baru,” jelas Wellehan.
Kemampuan terbang juga menjadi faktor penting. Dengan mobilitas tinggi, kelelawar dapat berpindah jarak jauh, menghindari predator, sekaligus menjangkau habitat baru. Namun, sifat sosial mereka yang hidup berkoloni turut mempercepat penyebaran patogen di antara sesamanya.
Sejumlah virus yang pernah dikaitkan dengan kelelawar antara lain Ebola, Virus Nipah, Virus Hendra, serta COVID-19 yang disebabkan oleh SARS-CoV-2.
Lolos Seleksi Alam karena Keragaman Genetik
Wellehan menilai, yang membuat kelelawar bertahan bukan semata kekuatan fisik, melainkan keragaman genetik yang luas dalam populasi mereka. Dengan populasi besar dan tingkat kontak tinggi antarindividu, kemungkinan munculnya gen imun yang mampu menghadapi patogen baru menjadi lebih besar.
Seiring waktu, patogen dan inang akan saling beradaptasi melalui proses evolusi. Karena jumlah spesies kelelawar sangat banyak, maka variasi virus yang mereka bawa juga menjadi beragam.
Meski demikian, kelelawar bukan hewan yang kebal penyakit. Mereka tetap bisa terserang infeksi seperti lyssavirus (rabies) dan sindrom hidung putih, yaitu infeksi jamur yang menyerang saat kelelawar berhibernasi.
Gangguan Habitat Picu Risiko Zoonosis
Para ahli juga menekankan bahwa gangguan habitat memiliki peran besar dalam meningkatkan risiko penularan zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Ketika populasi satwa mengalami tekanan akibat perubahan lingkungan, keseimbangan ekologis dapat terganggu dan memicu perpindahan patogen.
Karena itu, pendekatan terbaik bukan dengan memusuhi kelelawar, melainkan menjaga keseimbangan ekosistem dan membatasi interaksi berisiko antara manusia dan satwa liar.
Di balik citra menyeramkan yang kerap dilekatkan pada kelelawar, hewan ini sesungguhnya merupakan bagian penting dari ekosistem dan contoh luar biasa dari adaptasi evolusi yang bertahan jutaan tahun. MK-mun
Redaktur : Munawir Sani
