Ilustrasi. (Foto: ABH)
BATAM (marwahkepri.com) – Musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga Maret mendatang mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air baku di Kota Batam. Kondisi cuaca kering menyebabkan pasokan air ke sejumlah waduk terus berkurang.
Pengelola air bersih di Batam, PT Air Batam Hilir (ABH), menyatakan penyusutan permukaan air waduk saat ini tercatat rata-rata mencapai 2 hingga 3 sentimeter per hari. Kondisi tersebut membuat ketahanan air di beberapa waduk berada dalam status darurat.
ABH pun terus melakukan berbagai langkah antisipasi agar kebutuhan pelanggan tetap terpenuhi, terutama menjelang perayaan Imlek, Ramadan, dan Idulfitri, di mana konsumsi air masyarakat biasanya meningkat.
Kota Batam sendiri tidak memiliki sumber air baku alami yang melimpah seperti sungai besar atau danau alami. Seluruh kebutuhan air bersih masyarakat bergantung pada air hujan yang ditampung di waduk serta daerah tangkapan air (DTA). Karena itu, perubahan cuaca dan minimnya curah hujan berdampak langsung pada volume air yang masuk ke waduk.
Ketersediaan air bersih di Batam sangat dipengaruhi kondisi iklim. Saat musim kemarau, berkurangnya pasokan air hujan otomatis menekan cadangan air baku yang ada. Dalam situasi ini, partisipasi masyarakat dinilai menjadi kunci menjaga keberlanjutan distribusi air.
Masyarakat diimbau menerapkan pola hemat air dalam aktivitas sehari-hari. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain mematikan keran saat tidak digunakan, memanfaatkan air bekas secara bijak, menggunakan shower saat mandi jika memungkinkan, mencuci kendaraan dengan ember, serta rutin memeriksa kebocoran instalasi air di rumah.
PT ABH juga mengingatkan pelanggan untuk menggunakan saluran resmi dalam menyampaikan keluhan maupun memperoleh informasi layanan, seperti melalui Kantor Pelayanan Pelanggan di Bengkong, Batu Aji dan HO Batam Center, Call Center (0778) 5700 000, WhatsApp 0811 778 0155, aplikasi mobile Air Batam Hilir, serta kanal media sosial dan laman resmi perusahaan.
Upaya penghematan dan kesadaran kolektif dinilai menjadi langkah penting guna menjaga stabilitas pasokan air bersih di tengah ancaman kemarau yang masih berlangsungg. MK-mun
Redaktur: Munawir Sani
