Kapal mata-mata Liaowang-1 milik China bisa mendeteksi rudal dan pesawat milik musuh. (Foto: Defense Express)
JAKARTA (marwahkepri.com) – Isu keterlibatan China dalam konflik Amerika Serikat (AS)–Israel melawan Iran kembali mencuat. Di media sosial beredar kabar bahwa kapal intelijen milik China, Liaowang-1, terlihat berada di kawasan Teluk Oman dan diduga membantu Iran dalam memantau pergerakan militer AS.
Laporan tersebut pertama kali ramai di media sosial sebelum dikutip sejumlah media internasional. Disebutkan bahwa Liaowang-1 merupakan kapal pengumpul informasi intelijen yang memiliki kemampuan pemantauan canggih.
Kapal ini diklaim mampu memonitor kapal perang dan pesawat tempur Amerika Serikat secara real time, kemudian melaporkan pergerakannya kepada pihak Iran. Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi terkait keberadaan kapal tersebut di perairan Iran maupun Teluk Oman.
Liaowang-1 diketahui sebagai kapal pemantau generasi baru yang diluncurkan China pada 2025. Kapal berbobot sekitar 30 ribu ton dengan panjang 332 meter ini dilengkapi sistem radar berbentuk kubah serta sensor canggih yang disebut mampu mendeteksi hingga 1.000 rudal secara bersamaan.
Selain itu, kapal tersebut juga dilengkapi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu identifikasi objek pengamatan secara cepat serta perangkat deteksi jarak jauh yang mampu menjangkau ribuan kilometer. Kapal ini juga disebut mampu melacak satelit, rudal, misi antariksa, serta mengumpulkan data telemetri dari peluncuran rudal.
Sejumlah analis pertahanan menilai jika benar berada di kawasan Timur Tengah, kapal tersebut berpotensi mengumpulkan data intelijen dan elektronik dari area konflik. Namun, ada pula pihak yang meragukan laporan tersebut.
Salah satu analis pertahanan menyebut data pelacakan kapal menunjukkan Liaowang-1 masih berada di Shanghai, China. Data dari situs pelacakan kapal internasional juga menunjukkan posisi kapal tersebut berada di wilayah China.
Meski demikian, sebelumnya sempat beredar laporan pada Februari 2026 yang menyebut kapal tersebut berada di Teluk Persia dalam rangka kerja sama pertahanan antara Iran dan China.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah China maupun Iran terkait kabar tersebut. MK-dtc
Redaktur : Munawir Sani
