Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (Foto: REUTERS/Jeenah Moon)
WASHINGTON (marwahkepri.com) – Pemerintah Israel secara resmi bergabung dalam Board of Peace atau Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pengumuman tersebut disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat melakukan kunjungan ke Washington dan bertemu Trump serta Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Rabu (11/2/2026) waktu setempat.
Berdasarkan laporan Al Arabiya dan Reuters, foto yang dirilis usai pertemuan memperlihatkan Netanyahu dan Rubio memegang dokumen yang telah ditandatangani terkait keanggotaan Israel dalam dewan tersebut. Netanyahu mengatakan bahwa ia “menandatangani masuknya Israel sebagai anggota ‘Dewan Perdamaian’.”
Pembentukan Dewan Perdamaian merujuk pada resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang disahkan pada pertengahan November tahun lalu. Resolusi tersebut memberi kewenangan kepada dewan beserta negara mitra untuk membentuk pasukan stabilisasi internasional di Gaza setelah gencatan senjata dimulai pada Oktober lalu dalam kerangka rencana yang diusulkan Trump dan disetujui Israel serta kelompok Hamas.
Dalam rencana tersebut, dewan dirancang untuk mengawasi pemerintahan sementara di Gaza. Trump bahkan menyatakan dewan itu akan diperluas untuk menangani konflik global, dengan dirinya sebagai ketua.
Pertemuan perdana Dewan Perdamaian dijadwalkan berlangsung pada 19 Februari mendatang di Washington dengan agenda utama membahas rekonstruksi Gaza pascakonflik.
Namun, sejumlah pakar hak asasi manusia menilai mekanisme pengawasan yang dipimpin Trump memiliki kemiripan dengan struktur kolonial. Selain itu, keterlibatan Israel memicu kritik karena tidak adanya perwakilan Palestina dalam keanggotaan dewan.
Sejumlah negara merespons undangan bergabung dengan sikap hati-hati sejak peluncuran dewan pada akhir Januari lalu. Beberapa pengamat juga menilai keberadaan dewan berpotensi melemahkan peran PBB dalam penyelesaian konflik global.
Walau sejumlah sekutu Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah telah bergabung, beberapa negara Barat memilih menunda keterlibatan. Di sisi lain, situasi di Gaza masih memanas dengan laporan pelanggaran gencatan senjata yang menyebabkan ratusan korban jiwa sejak Oktober lalu, menurut data otoritas Palestina dan Israel. MK-dtc
Redaktur : Munawir Sani
