presiden-as-donald-trump-1761628692973_169

Presiden AS Donald Trump (dok. REUTERS/Kylie Cooper)

BERLIN (marwahkepri.com) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecam Kanselir Jerman Friedrich Merz usai mengkritik operasi militer AS dan Israel terhadap Iran.

Melalui unggahan di media sosial, Trump menilai Merz tidak memahami ancaman besar yang ditimbulkan jika Iran memiliki senjata nuklir.

“Kanselir Jerman, Friedrich Merz, berpikir tidak apa-apa jika Iran memiliki senjata nuklir,” tulis Trump, dikutip Selasa (28/4/2026).

“Dia tidak tahu apa yang dia bicarakan! Jika Iran memiliki senjata nuklir, seluruh dunia akan menjadi sandera,” lanjutnya.

Trump juga menyindir kondisi ekonomi Jerman yang menurutnya tengah melemah akibat kepemimpinan yang tidak tegas.

Pernyataan Trump muncul setelah Merz secara terbuka mengkritik strategi perang AS-Israel terhadap Iran. Kanselir Jerman itu bahkan menyebut Amerika Serikat tengah “dipermalukan” oleh taktik negosiasi Iran.

Merz menyoroti kegagalan diplomasi Washington setelah Teheran menolak bertemu pejabat AS sebelum blokade pelabuhan dicabut.

“Masalah dengan konflik seperti ini adalah Anda tidak hanya harus masuk, Anda juga harus keluar lagi,” kata Merz.

Ia membandingkan situasi tersebut dengan pengalaman panjang Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak.

“Kita telah melihat hal itu dengan sangat menyakitkan di Afghanistan selama 20 tahun. Kita juga melihatnya di Irak,” ujarnya.

Sikap Merz dinilai cukup mengejutkan mengingat Jerman selama ini dikenal sebagai salah satu sekutu terdekat AS dan Israel.

Sebelumnya, saat Israel mulai melancarkan serangan besar terhadap Iran tahun lalu, Merz sempat menyatakan bahwa Israel sedang “melakukan pekerjaan kotor untuk kita semua”.

Namun perang yang berkepanjangan kini mulai memberi tekanan ekonomi besar bagi Eropa, terutama akibat lonjakan harga minyak dan ketidakstabilan jalur perdagangan internasional.

Ketegangan juga meningkat setelah Trump beberapa kali mengeluhkan sikap negara-negara Eropa yang menolak terlibat langsung dalam konflik Iran maupun operasi pembukaan Selat Hormuz.

Bahkan dalam kunjungan Merz ke Gedung Putih bulan lalu, Trump sempat mengancam akan memutus hubungan perdagangan dengan Spanyol karena menolak mendukung perang.

Meski demikian, saat itu Trump masih memuji hubungan baik dengan Jerman di bawah kepemimpinan Merz.

“Mereka adalah negara yang dihormati. Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan negara itu, khususnya sekarang, dengan pemimpin ini,” kata Trump kala itu.

Di sisi lain, kontroversi juga muncul setelah Kepala Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard sebelumnya menyatakan kepada Kongres bahwa Iran sebenarnya tidak sedang membangun senjata nuklir.

Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan alasan utama yang digunakan Trump untuk mendukung operasi militer terhadap Iran. MK-komp

Redaktur : Munawir Sani