file_000000000d2c71fab5be8bfbc2800098

ILUSTRASI - Perayaan Imlek tahun 2026 di kabupaten Karimun.

KARIMUN (marwahkepri.com) –  Lampion-lampion merah mulai menghiasi sudut-sudut kota. Di kawasan Meral hingga pusat Kota Karimun, nuansa perayaan terasa kian dekat.

Aroma kue keranjang dan manisan khas Imlek perlahan mengisi etalase toko-toko, menandai datangnya Tahun Baru Imlek 2577/2026 yang tahun ini jatuh pada 17 Februari—berdekatan dengan awal Ramadhan 1447 Hijriah.

Di tengah suasana itu, Bupati Karimun, Iskandarsyah, menyampaikan harapannya agar momentum dua perayaan besar ini justru mempererat kebersamaan masyarakat.

“Tradisi perayaan Imlek di Karimun cenderung menggabungkan ritual budaya Tionghoa dengan keterbukaan bagi warga luas,” katanya kepada Antara.

Karimun memang dikenal sebagai daerah yang masyarakatnya majemuk. Sekitar 14,88 persen warganya merupakan keturunan Tionghoa.

Dalam keseharian, interaksi sosial lintas budaya sudah menjadi bagian dari kehidupan warga. Karena itu, tema Imlek tahun ini, “Harmoni Imlek Nusantara”, terasa relevan dengan denyut kehidupan masyarakat setempat.

Bagi pemerintah daerah, Imlek bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga ruang perjumpaan sosial. Persiapan dilakukan secara matang dengan melibatkan komunitas Tionghoa, organisasi kemasyarakatan, serta wihara setempat.

Baca Juga:  Taikonaut Tiongkok Rayakan Imlek 2026 di Stasiun Luar Angkasa Tiangong

‎“Perayaan Tahun Baru Imlek 2577/2026 di Kabupaten Karimun dipersiapkan secara matang oleh komunitas masyarakat Tionghoa bersama organisasi lokal lainnya,” ujar Iskandarsyah.

Pemerintah daerah turut memberikan dukungan dengan mempromosikan kegiatan serta berkoordinasi dengan instansi terkait. Lampion dipasang di sejumlah titik strategis, doa bersama dirangkai, dan atraksi budaya seperti barongsai dipastikan tampil memeriahkan suasana.

Di balik gemerlap dekorasi merah dan emas, ada denyut ekonomi yang ikut bergerak. Penjual kue keranjang, jeruk Imlek, hingga pernak-pernik hiasan musiman merasakan peningkatan permintaan.

Jalanan yang dipenuhi lampion menghadirkan daya tarik visual yang memancing warga untuk berbelanja dan berfoto.

“Juga ekonomi lampion serta dekorasi jalan. Ini menciptakan ekonomi visual dan kreatif,” ujarnya.

Tak hanya pedagang kuliner, pelaku UMKM di bidang jasa hiburan turut merasakan berkah. Kelompok barongsai lokal mendapat undangan tampil di berbagai titik perayaan, menjadi bagian dari pertunjukan yang selalu dinanti.

Untuk memastikan perayaan berjalan aman dan tertib, pemerintah daerah berkoordinasi dengan Polres Karimun terkait rencana pesta kembang api saat malam pergantian tahun.

Baca Juga:  Tren Imlek 2026, Warga Tiongkok Beralih ke Hadiah Emas

Meski demikian, tradisi kembang api secara mandiri oleh warga juga kerap menjadi warna tersendiri dalam perayaan, dengan intensitas yang berbeda di setiap lokasi.

‎Sementara itu, untuk agenda pawai naga, pemerintah masih menunggu perkembangan lebih lanjut.

“Kalau untuk barongsai sudah konfirmasi dilaksanakan seperti biasa,” ujar Iskandarsyah.

Di Karimun, Imlek bukan hanya tentang pergantian tahun dalam kalender Tionghoa. Ia adalah perayaan kebersamaan—tentang lampion yang menyala berdampingan dengan semangat menyambut Ramadhan.

‎Sebuah harmoni yang diharapkan tetap terjaga, di tengah keberagaman yang menjadi kekuatan daerah.mk/timb