Gotong royong warga memperbaiki atap Masjid Assodikin di Desa Bukit Padi

Warga Dusun 2 Desa Bukit Padi bergotong royong memperbaiki atap Masjid Assodikin jelang Ramadan 1447 H.

ANAMBAS (marwahkepri.com) – Pagi itu, Rabu (18/2/2026), matahari baru saja merayap naik di ufuk timur ketika Dusun 2, Desa Bukit Padi, mulai menggeliat. Suara palu beradu dengan semen, langkah kaki hilir mudik membawa ember, dan tawa ringan warga memecah keheningan di halaman Masjid Assodikin.

Yang diperbaiki bukan sekadar atap yang bocor. Ada semangat kebersamaan yang turut dirawat menjelang datangnya Ramadan 1447 Hijriah.

Tanpa panggung atau seremoni resmi, warga berdatangan membawa alat seadanya—sekop, ember, hingga bahan bangunan. Dak masjid yang bocor tak ingin dibiarkan mengganggu kekhusyukan ibadah saat Ramadan nanti. Gotong royong pun menjadi pilihan, sebagaimana tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Di antara kerumunan, Kepala Desa Bukit Padi, Lukman Hakim, tampak membaur. Ia tak sekadar memberi arahan, tetapi ikut mengangkat material dan berdiskusi mencari cara tercepat menutup celah kebocoran.

“Gotong royong ini bukan sekadar kerja bakti. Ini tentang menjaga warisan kebersamaan kita. Masjid adalah pusat kehidupan umat, apalagi saat Ramadhan. Jamaah harus merasa aman dan nyaman saat beribadah,” ucap Lukman Hakim sambil menyeka keringat di dahinya.

Baca Juga:  Polda Kepri dan Media Perkuat Sinergi di Bulan Ramadan

Tangan-tangan warga bergerak tanpa komando. Ada yang membersihkan bagian dak yang rusak, ada yang mencampur semen, dan lainnya menutup retakan yang menjadi sumber rembesan air. Canda ringan mengalir di sela pekerjaan, membuat waktu terasa lebih cepat.

Bagi warga, kehadiran kepala desa di tengah-tengah mereka menjadi suntikan semangat.

“Ia bukan cuma menyuruh, tapi ikut bekerja. Itu yang membuat kami merasa dihargai dan makin kompak,” ujar salah seorang warga Dusun 2.

Sejak pukul 08.00 WIB hingga menjelang tengah hari sekitar 11.30 WIB, perbaikan berlangsung lancar. Atap masjid perlahan kembali kokoh—seolah menjadi simbol kesiapan warga menyambut Ramadan, bukan hanya dengan persiapan fisik, tetapi juga dengan mempererat tali persaudaraan.

Di Bukit Padi pagi itu, menambal atap berarti juga merawat iman dan kebersamaan. Sebuah pengingat sederhana bahwa menyambut Ramadan bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga tentang menjaga harmoni dan solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat.(*)

Redaktur : Munawir Sani