Ilustrasi serangan drone Iran terhadap kapal Amerika Serikat di perairan Teluk Oman. (f: reuter)
JAKARTA (marwahkepri.com) – Langkah pencegatan ini disebut sebagai bagian dari strategi tekanan Washington terhadap Teheran melalui jalur laut. Setidaknya tiga kapal tanker berbendera Iran dipaksa berbalik arah dari wilayah strategis dekat Malaysia, India, dan Sri Lanka.
Meski belum ada pernyataan resmi dari militer AS, data pelacakan kapal mengungkap identitas tiga tanker tersebut, yakni Deep Sea, Sevin, dan Dorena. Kapal Dorena bahkan dikabarkan berada dalam pengawalan kapal perang AS di Samudra Hindia.
Situasi ini makin panas karena Iran tidak tinggal diam. Teheran dilaporkan membalas dengan menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, jalur vital energi dunia.
Padahal, kedua pihak saat ini tengah berada dalam masa gencatan senjata. Namun, rangkaian aksi saling serang dan penyitaan kapal membuat peluang perdamaian semakin menjauh.
Dalam beberapa hari terakhir, konflik semakin eskalatif setelah AS menyita kapal kargo dan tanker minyak Iran. Sebagai balasan, Iran mengklaim telah menahan kapal kontainer yang mencoba keluar dari kawasan Teluk.
Tidak hanya itu, tanker lain bernama Derya juga diduga ikut dicegat setelah gagal membongkar muatan minyak di India. Kapal tersebut terakhir terdeteksi di perairan barat India.
Ketegangan ini menunjukkan bahwa konflik AS-Iran kini tidak hanya terjadi di darat atau udara, tetapi juga merambah jalur laut internasional yang menjadi urat nadi perdagangan global.
Jika situasi terus memburuk, dampaknya bisa meluas, mulai dari lonjakan harga minyak dunia hingga gangguan distribusi energi global. MK-dtc
Redaktur : Munawir Sani
