Noah Shinn. Foto: Linkedin
JAKARTA (marwahkepri.com) – Noah Shinn, mahasiswa yang memilih berhenti kuliah pada usia muda, berhasil membangun salah satu startup kecerdasan buatan (AI) yang tumbuh pesat di Silicon Valley. Perusahaan rintisannya, Instinct, kini disebut telah mencapai valuasi US$10 miliar atau sekitar Rp160 triliun.
Dikutip dari VN Express, dikutip detikINET, Instinct merupakan startup yang mengembangkan asisten AI pribadi. Perusahaan tersebut awalnya muncul tanpa banyak sorotan, tetapi dalam waktu singkat berhasil menarik perhatian investor teknologi di Silicon Valley.
Instinct sebelumnya memperoleh pendanaan sebesar US$250 juta dengan valuasi US$2,5 miliar. Kurang dari sebulan kemudian, perusahaan kembali mendapatkan suntikan dana US$1 miliar.
Putaran pendanaan pada 28 September itu melibatkan sejumlah perusahaan modal ventura besar, termasuk Sequoia Capital, Benchmark Capital, dan Coatue. Pendanaan tersebut sekaligus membawa valuasi Instinct menjadi US$10 miliar.
Pertumbuhan Instinct terbilang cepat karena layanan tersebut hingga kini masih menggunakan sistem akses terbatas melalui undangan. Perusahaan bahkan diklaim telah mendekati volume transaksi tahunan sebesar US$1 miliar, dengan sekitar separuh aktivitas tersebut berasal dari sektor perjalanan.
Menariknya, Shinn mengaku Instinct belum mengeluarkan biaya untuk pemasaran.
“Sejauh ini kami mengeluarkan biaya 0 dolar untuk pemasaran,” kata Shinn, seperti dikutip Fortune.
Popularitas layanan tersebut bahkan membuat sejumlah pengguna menawarkan undangan Instinct untuk dijual melalui eBay.
Bukan Sekadar Chatbot
Instinct dikembangkan dengan konsep berbeda dari chatbot AI pada umumnya. Sistem ini dirancang sebagai asisten pribadi yang dapat memahami aktivitas dan kebutuhan pengguna, kemudian menjalankan berbagai tugas atas nama mereka.
Pengguna dapat berkomunikasi dengan Instinct melalui pesan teks maupun panggilan telepon. AI tersebut kemudian dapat menggunakan perangkat pengguna untuk menjalankan tugas layaknya manusia.
Berbagai pekerjaan dapat diberikan kepada Instinct, mulai dari menyusun rencana perjalanan, membeli bahan makanan, memesan tiket hingga membatalkan layanan berlangganan.
Dalam perkembangannya, Instinct juga digunakan untuk membantu keperluan yang lebih kompleks. Beberapa pengguna bahkan memanfaatkannya untuk merencanakan pernikahan.
Perusahaan kemudian menambahkan kemampuan layanan personal yang memungkinkan AI menelepon tempat usaha untuk melakukan reservasi atas nama pengguna.
Shinn memiliki visi agar Instinct semakin memahami kebiasaan dan preferensi setiap pengguna. Dengan begitu, pengguna tidak perlu berulang kali memberikan instruksi yang sama setiap kali ingin melakukan suatu pekerjaan.
Berawal dari Riset AI
Sebelum mendirikan Instinct, Shinn telah lebih dulu terlibat dalam pengembangan teknologi AI.
Ia tumbuh di kawasan San Francisco Bay Area dan kemudian berkuliah di Northeastern University, Boston. Di kampus tersebut, Shinn mempelajari berbagai bidang, termasuk pemrograman dan teknik kedirgantaraan.
Beberapa pekan setelah ChatGPT diluncurkan pada November 2022, Shinn merespons unggahan LinkedIn profesor MIT saat itu, Ashwin Gopinath, yang mencari mahasiswa untuk melakukan eksperimen dengan teknologi AI.
Dalam tiga bulan berikutnya, Shinn bersama sejumlah peneliti mengembangkan Reflexion, sebuah kerangka kerja yang memungkinkan agen AI belajar dari kegagalan dan memperbaiki respons berikutnya.
Penelitian tersebut disebut mampu mencapai akurasi 91% pada salah satu tolok ukur pengodean, sementara GPT-4 ketika itu berada di angka 80%.
Profesor ilmu komputer Northeastern, Arjun Guha, mengatakan teknik tersebut kemudian banyak dikembangkan kembali oleh pihak lain.
“Sejak itu banyak pihak menciptakannya kembali, tapi teknik dasarnya bersumber pada makalah yang ditulis mahasiswa tahun kedua pada 2023,” ujar Guha.
Pada 2023, Shinn memutuskan berhenti kuliah. Ia kemudian bergabung sebagai salah satu karyawan awal di Sierra, startup AI yang didirikan antara lain oleh Bret Taylor, mantan co-CEO Salesforce dan mantan pimpinan OpenAI.
Di Sierra, Shinn bekerja sebagai peneliti AI dan terlibat dalam pengembangan sejumlah produk utama. Ia juga tetap aktif sebagai penulis bersama dalam berbagai penelitian mengenai kemampuan agen AI mengikuti instruksi, menggunakan perangkat lunak, dan menulis kode.
Shinn meninggalkan Sierra pada September 2025. Sebulan kemudian, ia mendirikan Instinct.
Dari Startup Senyap hingga Valuasi US$10 Miliar
Instinct pada awalnya beroperasi secara tertutup. Pengujian beta untuk asisten AI tersebut dimulai pada Februari 2026 sebelum akses terbatas melalui sistem undangan dibuka pada Agustus.
Sejumlah pengguna awal berasal dari kalangan pemodal ventura. Penggunaan oleh kelompok tersebut kemudian membantu Instinct menyebar di lingkungan Silicon Valley melalui rekomendasi dari mulut ke mulut.
Valuasi perusahaan yang semula hanya sekitar US$50 juta kemudian melonjak hingga US$10 miliar dalam waktu sekitar lima bulan. Artinya, valuasinya meningkat sekitar 200 kali lipat.
Lonjakan tersebut terjadi di tengah meningkatnya minat investor terhadap teknologi agentic AI, yakni sistem kecerdasan buatan yang tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga mampu menjalankan serangkaian tindakan untuk menyelesaikan tugas tertentu.
Berhadapan dengan Meta
Pertumbuhan Instinct juga membuat startup tersebut masuk ke arena persaingan dengan perusahaan teknologi raksasa seperti Meta.
Meta telah mengembangkan agen AI personal bernama Muse, yang menjadi bagian dari ambisi perusahaan dalam mengembangkan teknologi AI yang semakin personal.
Konsep Muse dan Instinct memiliki kesamaan, yakni menghadirkan asisten AI yang tidak berhenti pada percakapan, tetapi dapat mengambil tindakan nyata untuk membantu pengguna.
Persaingan tersebut bahkan sempat muncul di media sosial. Chief AI Officer Meta, Alexandr Wang, beberapa kali menyindir Instinct dengan menyebutnya “Insect”. Dalam unggahan lainnya, Wang mengklaim Muse bekerja lebih cepat dan lebih menarik.
Shinn menanggapi salah satu unggahan tersebut dengan emoticon wajah tersenyum.
Alih-alih memperbesar persaingan, Shinn memilih merespons secara santai. Ia tetap memuji Muse sebagai produk yang bagus dan mengatakan dirinya tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan kompetisi. MK-dtc
Redaktur : Munawir Sani
