Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo. (f: tribunbatam)
JAKARTA (marwahkepri.com) – Pergantian pucuk pimpinan PT PLN (Persero) terjadi ketika masyarakat Batam, Bintan, dan Tanjungpinang masih disorot akibat gangguan pasokan listrik berskala besar. Darmawan Prasodjo digantikan Suroso Isnandar sebagai Direktur Utama PLN melalui keputusan pemegang saham pada Rabu (14/10/2026).
Pergantian tersebut menjadi perhatian karena hanya berselang dua hari setelah blackout Batam pada Senin (12/10/2026) yang turut berdampak terhadap pasokan listrik di Bintan dan Tanjungpinang. Ketiga wilayah itu terhubung dalam sistem pasokan listrik yang bersumber dari Batam.
Namun, Komisaris Independen PT PLN, Andi Arief, menegaskan pergantian Direktur Utama tidak secara khusus dikaitkan dengan peristiwa pemadaman listrik.
Ia menyebut alasan pergantian lebih berkaitan dengan masa jabatan Darmawan yang dinilai sudah cukup lama memimpin perusahaan.
“Tidak, tidak disebutkan tadi dalam RUPS,” kata Andi Arief seperti dilansir dari Tribunnews.com, Rabu (14/10/2026) malam.
Masa Jabatan Darmawan dan Penunjukan Suroso
Darmawan Prasodjo menjabat sebagai Direktur Utama PLN sejak 6 Desember 2021. Pengangkatannya saat itu berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-389/MBU/12/2021 tertanggal 6 Desember 2021.
Sebelum menduduki posisi tertinggi di perusahaan listrik negara tersebut, Darmawan lebih dahulu menjabat sebagai Wakil Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2019.
Sementara itu, Suroso Isnandar bukan sosok baru di lingkungan PLN. Sebelum ditunjuk menjadi Direktur Utama, ia menjabat sebagai Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan.
Penunjukan Suroso merujuk pada Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-159/MBU/06/2025 tertanggal 18 Juni 2025.
Andi Arief menjelaskan, berdasarkan penilaiannya, pergantian tersebut dilakukan karena Darmawan telah cukup lama menduduki jabatan Direktur Utama. Ia memastikan isu pemadaman listrik tidak disebut sebagai alasan pencopotan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Bahlil Ungkap Dugaan Gangguan akibat Kelelawar dan Petir
Di tengah pergantian pimpinan PLN, penyebab blackout di Batam juga menjadi perhatian pemerintah pusat.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa gangguan pada sistem kelistrikan Batam diduga dipicu sejumlah persoalan teknis. Salah satunya berkaitan dengan kelelawar yang disebut mengganggu gardu listrik.
“Teknisnya itu ada tiga, salah satu di antaranya adalah katanya ada hewan atau apa, yang kena kelelawar,” ujar Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Selain dugaan gangguan akibat hewan, Bahlil menyebut petir juga diduga mengenai jaringan listrik sehingga menimbulkan gangguan pada sistem pasokan.
“Ada beberapa persoalan teknis di wilayah Batam. Ada beberapa jaringan yang kena trouble karena ada petir, menurut mereka ya. Dan ada kesalahan teknis lah,” ucapnya.
Meski telah menyampaikan sejumlah kemungkinan penyebab, Bahlil tidak menyatakan bahwa seluruh faktor tersebut sudah dipastikan sebagai penyebab akhir blackout. Ia justru meminta PLN melakukan evaluasi dan perbaikan secara lebih intensif agar kejadian serupa tidak kembali mengganggu masyarakat.
“Perbaikan yang lebih intensif lagi. Agar bisa kita memberikan pelayanan yang terbaik untuk rakyat,” imbuh Bahlil.
Polda Kepri Kumpulkan Keterangan
Selain pemerintah pusat, aparat kepolisian turut menelusuri penyebab gangguan listrik yang berdampak pada Batam, Bintan, dan Tanjungpinang.
Polda Kepulauan Riau (Kepri) telah melakukan pengumpulan bahan keterangan atau pulbaket. Sejumlah personel gabungan juga diterjunkan untuk membantu pengamanan serta mengantisipasi dampak pemadaman terhadap aktivitas masyarakat.
Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Nona Pricillia Ohei, mengatakan Kapolda Kepri telah menginstruksikan pengerahan personel dari sejumlah fungsi kepolisian.
Personel yang dilibatkan berasal dari Samapta, Pengamanan Objek Vital (Pamobvit), Reserse Kriminal (Reskrim), hingga Satuan Lalu Lintas. Mereka bertugas membantu masyarakat, melakukan pengaturan lalu lintas, serta menjaga keamanan selama gangguan pasokan listrik berlangsung.
“Dari kepolisian, yang jelas dipimpin oleh Bapak Kapolda, telah menurunkan anggota atau personel dari Polda Kepri dari berbagai fungsi, baik Samapta, Pamobvit, Reskrim, maupun lalu lintas melakukan pengaturan akibat dampak padamnya listrik,” kata Nona saat ditemui di Mapolda Kepri, Selasa (13/10/2026) sore.
Menurut Nona, langkah tersebut tidak hanya untuk membantu penanganan dampak pemadaman, tetapi juga memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terkendali.
Di sisi lain, tim kepolisian masih mendalami penyebab blackout yang berlangsung lebih dari 15 jam tersebut. Hingga pernyataan disampaikan, Polda Kepri belum menyimpulkan faktor pasti yang menyebabkan gangguan pasokan listrik.
“Untuk penyebabnya masih dalam pulbaket oleh tim dari kepolisian. Jadi, kami mohon masyarakat untuk bersabar. Yang pasti, kami terus mengupayakan agar permasalahan ini cepat selesai dan listrik kembali dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Dengan demikian, dugaan gangguan akibat kelelawar, sambaran petir, maupun persoalan teknis lainnya masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Hasil pendalaman kepolisian dan evaluasi PLN diharapkan dapat memberikan penjelasan yang lebih terang mengenai penyebab blackout di wilayah Kepulauan Riau. MK-mun
Redaktur : Munawir Sani
