Petani menjemur cengkih hasil panen di Anambas

Petani di Kabupaten Kepulauan Anambas menjemur cengkih hasil panen sebelum dijual ke pengepul.(foto/batampos)

ANAMBAS (marwahkepri.com) – Kabupaten Kepulauan Anambas dikenal memiliki iklim tropis yang mendukung pertumbuhan berbagai tanaman hayati, termasuk cengkih yang menjadi salah satu komoditas andalan masyarakat setempat.

Curah hujan yang cukup sepanjang tahun, paparan sinar matahari merata, serta kondisi tanah yang relatif subur membuat wilayah kepulauan ini cocok untuk pengembangan komoditas perkebunan.

Letak geografis Anambas yang berada di wilayah kepulauan turut memengaruhi karakter tanah dan tingkat kelembapan udara. Kombinasi angin laut dan suhu yang stabil menjadikan tanaman perkebunan tumbuh optimal tanpa perubahan cuaca ekstrem yang signifikan.

Beragam tanaman hayati dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah Anambas, mulai dari kelapa, pala, hingga berbagai tanaman rempah. Dari sejumlah komoditas tersebut, cengkih menjadi salah satu yang paling sering dipanen warga dan telah lama dibudidayakan sebagai sumber penghidupan.

Salah seorang petani cengkih, Suhud, mengatakan tanaman cengkih di Anambas tumbuh subur karena didukung kondisi alam yang sesuai. Menurutnya, kualitas cengkih dari daerah ini cukup dikenal dan memiliki daya saing.

“Hampir semua pulau di Anambas memiliki tanaman cengkih, baik di Siantan, Jemaja maupun Matak. Bahkan pulau kecil seperti Bajau juga ada cengkih,” ujar Suhud, Senin (16/2), dilansir dari Batampos.

Ia menjelaskan, musim panen cengkih biasanya terjadi satu kali dalam setahun, tergantung kondisi cuaca. Panen dilakukan saat bunga cengkih berwarna kekuningan sebelum mekar sempurna.

Memasuki musim panen, aktivitas masyarakat meningkat. Banyak warga bekerja sebagai pemetik maupun pengopek cengkih untuk menambah penghasilan keluarga.

“Masyarakat berbondong-bondong ambil upah kopek cengkih. Dia kan segumpalan, biar tidak bergumpal, dia dikopek,” kata Suhud.

Upah mengopek cengkih bervariasi, tergantung kesepakatan dengan pemilik kebun, yakni berkisar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram.

“Kalau sudah musimnya, setiap rumah biasanya ada saja yang ambil kerjaan kopek cengkih. Ada yang bisa sampai tiga karung ukuran 50 kilogram,” jelasnya.

Setelah proses pengopekan, cengkih basah dijemur di bawah sinar matahari langsung selama beberapa hari hingga kadar air berkurang dan warnanya berubah menjadi cokelat tua kehitaman.

Cengkih kering kemudian ditimbang dan dijual ke pengepul. Namun, Suhud mengungkapkan harga jual saat ini mengalami penurunan dan berada di angka Rp80 ribu per kilogram.

“Hasil cengkih ini kita kirim sampai ke Singapura dan Malaysia,” katanya.

Ia berharap harga kembali stabil agar petani tidak merugi dan tetap semangat merawat kebun serta mempertahankan cengkih sebagai komoditas unggulan daerah.MK-BP