serangan-militer-as-ke-iran.jpg

Ilustrasi Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran setelah helikopter Apache ditembak jatuh di Selat Hormuz. (f: ai)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran membuka peluang terbentuknya dana investasi swasta senilai 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.328 triliun untuk mendukung pemulihan ekonomi Iran pascakonflik.

Dana investasi raksasa tersebut disiapkan setelah Washington dan Teheran mencapai kerangka kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026. Informasi itu diungkap seorang sumber yang mengetahui langsung proses perundingan kepada Reuters.

Menurut sumber tersebut, lebih dari separuh nilai dana investasi itu telah memperoleh komitmen pendanaan dari berbagai pihak internasional.

Nilai investasi tersebut bahkan melampaui target pendapatan negara Indonesia dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp3.153,5 triliun. Angka itu juga lebih besar dibandingkan total target belanja negara yang mencapai Rp3.842,73 triliun.

Sumber yang enggan disebutkan namanya itu menjelaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat dan Iran saat ini tengah mempersiapkan penandatanganan perjanjian damai final yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni 2026.

Dana investasi tersebut dirancang sebagai insentif ekonomi guna memastikan proses perdamaian berjalan hingga tahap final sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi Iran setelah konflik berkepanjangan.

Sebelumnya, pada 15 Juni 2026, pejabat Amerika Serikat dan Iran mengumumkan bahwa kedua negara telah mencapai kerangka kesepakatan untuk mengakhiri perang yang pecah sejak 28 Februari 2026 setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Teheran.

Kesepakatan itu juga mencakup penghentian blokade ekonomi terhadap Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu pusat distribusi minyak dan gas dunia.

Sumber tersebut menegaskan bahwa dana senilai Rp5.328 triliun bukan merupakan dana rekonstruksi maupun reparasi perang. Dana itu sepenuhnya berbentuk kendaraan investasi swasta tanpa menggunakan dana pemerintah ataupun hibah.

“Dana itu hanya akan dibentuk setelah perjanjian final ditandatangani,” ujar sumber tersebut.

Ia menambahkan bahwa selama 60 hari setelah penandatanganan kesepakatan, para pengelola dana akan bekerja sama dengan pemerintah Iran dan investor untuk menentukan proyek-proyek prioritas yang akan didanai.

Investasi tersebut direncanakan mengalir ke sejumlah sektor strategis, seperti energi, logistik, manufaktur, dan transportasi.

Sumber itu juga menyebut perusahaan-perusahaan dari kawasan Teluk Arab, Asia, Amerika Selatan, dan Afrika telah menyatakan komitmen pendanaan. Selain itu, sejumlah perusahaan dari Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, hingga Amerika Serikat juga disebut menunjukkan minat untuk berpartisipasi, meski identitas mereka belum diungkapkan.

Jika terealisasi, dana investasi ini diperkirakan menjadi salah satu arus modal asing terbesar yang pernah diterima Iran dan berpotensi mempercepat integrasi ekonomi negara tersebut ke pasar internasional pascaperdamaian. MK-mun

Redaktur : Munawir Sani