anjing-hantu-di-brasil-

Anjing telinga pendek (Atelocynus microtis) yang dijuluki "anjing hantu" Amazon berhasil terekam kamera penelitian. (f: pop science)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Setelah lebih dari dua dekade menjadi misteri di hutan hujan Amazon, ilmuwan akhirnya berhasil mengungkap sejumlah fakta baru tentang anjing telinga pendek (Atelocynus microtis), spesies langka yang dijuluki “anjing hantu” karena sangat sulit ditemukan di alam liar.

Spesies yang hidup di kawasan hutan Bolivia dan Peru itu selama ini dikenal sebagai salah satu anggota keluarga anjing (canid) paling misterius di dunia. Namun penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Neotropical Biology and Conservation menunjukkan bahwa populasi hewan tersebut ternyata lebih banyak dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Tim peneliti melakukan survei menggunakan jebakan kamera di berbagai wilayah dataran rendah Bolivia dan Peru selama lebih dari 25 tahun. Dari penelitian tersebut, mereka berhasil mengumpulkan 594 foto individu anjing telinga pendek yang selama ini sangat jarang terdokumentasikan.

“Aspek paling mengejutkan dari hasil ini adalah bahwa meskipun spesies ini bagaikan hewan mitos, anjing telinga pendek ternyata jauh lebih banyak dari yang kami bayangkan,” ungkap tim peneliti.

Anjing telinga pendek memiliki ciri fisik unik berupa kepala besar, telinga kecil membulat, kaki pendek, ekor panjang dan lebat, serta bulu berwarna gelap yang bervariasi dari cokelat kemerahan hingga abu-abu kehitaman. Salah satu keistimewaannya adalah telapak kaki yang sebagian berselaput, karakteristik yang tidak ditemukan pada spesies anjing Amazon lainnya.

Berdasarkan hasil analisis, kepadatan populasi spesies ini diperkirakan mencapai sekitar 15 individu per 100 kilometer persegi. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa anjing telinga pendek tidak sesangka yang selama ini dikhawatirkan, meskipun tetap tergolong hewan yang sulit ditemukan.

Penelitian juga menemukan bahwa spesies ini memiliki aktivitas tertinggi pada pagi hingga menjelang siang hari, terutama antara pukul 06.00 hingga 12.00 waktu setempat.

Penulis utama penelitian sekaligus ilmuwan dari Wildlife Conservation Society, Robert Wallace, menyebut studi ini menjadi bukti penting bagaimana teknologi konservasi modern mampu mengungkap kehidupan satwa yang sebelumnya hampir tidak diketahui.

“Penelitian ini adalah contoh luar biasa tentang bagaimana teknologi konservasi dan penginderaan jauh dapat memberikan data penting mengenai salah satu spesies paling misterius di hutan hujan Amazon,” ujarnya.

Meski memiliki kaki berselaput yang identik dengan hewan semiakuatik, anjing telinga pendek ternyata lebih menyukai habitat hutan lebat di dataran tinggi yang jauh dari sungai. Kebiasaan hidup di kawasan hutan yang rapat, ditambah kemampuan penciuman dan pendengaran yang sangat tajam, membuat spesies ini hampir tidak pernah terlihat manusia.

Karakteristik tersebut menjadi alasan utama mengapa anjing telinga pendek selama bertahun-tahun dijuluki sebagai “anjing hantu” Amazon, karena keberadaannya lebih sering diketahui melalui jejak dan rekaman kamera dibandingkan pengamatan langsung. MK-mun

Redaktur : Munawir Sani