Ilustrasi kekeringan. (Foto: Liputan6)
BATAM (marwahkepri.com) – BMKG Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam menyebut kekeringan yang melanda Kepulauan Riau dipicu rendahnya kelembapan udara di lapisan atas serta kuatnya angin yang menghambat pembentukan awan hujan.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam, Riza Juniarti, mengatakan faktor atmosfer tersebut membuat potensi hujan di wilayah Kepri menjadi sangat terbatas.
“Rendahnya kelembapan udara di lapisan atas dan kuatnya kecepatan angin di wilayah Kepulauan Riau menghambat proses pembentukan awan hujan,” kata Riza, Jumat (27/3/2026).
Ia menyebutkan, sejak awal tahun 2026, khususnya periode Januari hingga Maret, curah hujan di wilayah Kepri terpantau cukup rendah. Kondisi tersebut turut memperparah kekeringan yang kini dirasakan masyarakat di sejumlah daerah.
“Untuk wilayah Kepri memang di awal tahun, Januari sampai Maret 2026, menunjukkan curah hujan yang cukup rendah,” jelasnya.
Selain itu, BMKG juga mencatat adanya potensi fenomena iklim global El Niño yang saat ini berada pada kisaran 50 hingga 60 persen. Kondisi ini turut berkontribusi terhadap berkurangnya intensitas hujan di wilayah Indonesia, termasuk Kepri.
“Potensi El Nino untuk saat ini masih sekitar 50-60 persen,” ujarnya.
Berdasarkan prospek cuaca BMKG, kondisi cerah hingga berawan diperkirakan masih akan mendominasi wilayah Kepri hingga awal April 2026. Meski demikian, terdapat potensi kecil hujan ringan yang bersifat lokal pada periode 30 Maret hingga 2 April 2026.
“Potensi hujan ringan ini di beberapa wilayah seperti Batam, Tanjungpinang, Bintan, Lingga, Karimun, dan Natuna,” ujarnya.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi kekeringan berkepanjangan serta kemungkinan munculnya titik panas (hotspot) yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga akhir Maret 2026.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran di tengah kondisi cuaca kering yang masih berpotensi berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. MK-mun
Redaktur: Munawir Sani
