menko-perekonomian-airlangga-hartarto-dok-ekongoid-1787877748810_169

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto. (f: Foto: (Dok. ekon.go.id)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan sejumlah negara Barat, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Inggris, mulai mengkhawatirkan peningkatan kemampuan ekspor Indonesia.

Menurut Airlangga, ekspor Indonesia ke AS mengalami lonjakan tajam pada 2025. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu alasan AS menerapkan tarif resiprokal terhadap produk Indonesia.

“Tahun lalu, kita ekspor ke AS cukup besar dan kenaikan ekspor ke AS itu mencapai 110%. Tetapi karena kita naik 110%, maka kita dianggap melakukan dumping dan dikenakan bea masuk 110%,” kata Airlangga dalam paparannya di Sidang Pleno Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Kamis (27/8/2026).

Ekspor Baja RI Jadi Sorotan

Selain peningkatan ekspor secara keseluruhan, Airlangga menyoroti lonjakan ekspor baja Indonesia ke pasar Amerika Serikat.

Menurutnya, meskipun pemerintah Indonesia dan AS telah menandatangani agreement on reciprocal tariff, AS masih menerapkan tarif sektoral terhadap produk baja Indonesia.

Airlangga mengatakan nilai ekspor baja Indonesia yang sebelumnya sekitar US$4 miliar pada 2016, meningkat menjadi sekitar US$30 miliar pada 2025.

“Walaupun kita sudah tandatangan agreement on reciprocal tariff, tetapi mereka secara sektoral masih menaikkan bea masuk untuk baja kita, karena kita lihat ekspor baja dari 2016 yang masih US$4 miliar, per 2025 sudah mencapai US$30 miliar,” terang Airlangga.

Peningkatan tersebut membuat sejumlah negara Barat semakin memperhatikan perkembangan industri dan kemampuan ekspor Indonesia.

Airlangga menyebut AS menerapkan tarif sektoral 50% terhadap baja, sementara Uni Eropa dan Inggris juga mengenakan tarif 50% terhadap produk baja Indonesia.

Padahal, menurutnya, nilai ekspor baja Indonesia ke negara-negara tersebut relatif kecil.

“Maka AS mengenakan sektoral tarif baja 50%, begitu juga negara Uni Eropa dan Inggris yang mengenakan tarif 50%, padahal ekspor kita ke Uni Eropa ataupun ke Inggris relatif kecil, demikian pula ke AS relatif kecil karena kita hanya mengekspor atap seng dan galvalum,” jelasnya.

Bukan Karena Nilai Ekspor Besar

Airlangga menegaskan kekhawatiran negara-negara Barat terhadap Indonesia bukan semata-mata disebabkan oleh besarnya nilai ekspor Indonesia ke pasar mereka.

Menurutnya, yang menjadi perhatian adalah peningkatan kemampuan industri dan kapasitas ekspor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

“Jadi seluruh dunia khawatir bukan karena jumlah ekspor kita banyak, jumlahnya kecil kok, tapi dengan peningkatan kemampuan ekspor kita, mereka makin khawatir,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan semakin kuatnya kapasitas industri Indonesia di pasar global sekaligus menghadirkan tantangan baru berupa kebijakan tarif dan perlindungan perdagangan dari sejumlah negara tujuan ekspor. MK-cnbc

Redaktur : Munawir Sani