(foto: freepik.com/author/wirestock)
MARWAHKEPRI.COM – Dalam kehidupan umat Islam, istilah ‘ain kerap disebut sebagai gangguan yang muncul akibat pandangan mata yang disertai rasa iri, kagum berlebihan, atau dengki. Konsep ini telah lama dikenal dalam ajaran Islam dan dijelaskan melalui hadis Nabi Muhammad SAW serta penafsiran sejumlah ayat Al-Qur’an.
Secara bahasa, ‘ain berarti mata. Dalam pengertian syariat, ‘ain merujuk pada dampak buruk yang dapat terjadi karena pandangan seseorang dengan niat tertentu, yang atas izin Allah SWT bisa memengaruhi kondisi fisik maupun mental orang lain. Rasulullah SAW sendiri menegaskan keberadaan ‘ain melalui hadis sahih yang menyebutkan bahwa ‘ain adalah sesuatu yang nyata.
Meski Al-Qur’an tidak menyebut istilah ‘ain secara langsung, sebagian ulama menafsirkan beberapa ayat sebagai isyarat adanya pengaruh buruk dari pandangan mata. Salah satunya terdapat dalam Surah Al-Qalam ayat 51 yang menggambarkan pandangan penuh kebencian dari orang-orang yang menolak dakwah Nabi Muhammad SAW.
Dalam sejumlah hadis lain, Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa ‘ain dapat menimbulkan dampak serius, mulai dari gangguan kesehatan hingga musibah tertentu. Meski demikian, umat Islam diajarkan untuk tidak berlebihan dalam ketakutan, melainkan memperkuat perlindungan diri melalui doa, zikir, dan ibadah.
Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain membaca ta’awudz, doa perlindungan dari gangguan makhluk, Ayat Kursi, serta doa ruqyah yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Amalan tersebut dipercaya menjadi bentuk ikhtiar spiritual dalam menjaga diri dari gangguan yang tidak terlihat.
Para ulama menekankan bahwa konsep ‘ain harus dipahami secara bijak. Umat Islam dianjurkan untuk tetap menjaga prasangka baik, menghindari iri hati, serta memperkuat iman dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. MK-dtc
Redaktur : Munawir Sani
