Tifatul Sembiring menyampaikan gagasan “Ekonomi Utara” dalam forum di Batam. (f: mpr ri)
JAKARTA (marwahkepri.com) – Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera MPR RI Ir Tifatul Sembiring mendorong gagasan baru bernama “Ekonomi Utara” sebagai strategi pemerataan dan percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Konsep ini ia sampaikan dalam Lokakarya Akademik F-PKS MPR RI Tahun 2026 bertema “Membedah Potensi Ekonomi Karimun Kepulauan Riau” di Batam, Kepulauan Riau.
Dalam paparannya, Tifatul menilai arah pembangunan ekonomi Indonesia selama ini masih terlalu terpusat di kawasan selatan, sehingga wilayah utara belum tergarap maksimal. Ia menekankan bahwa pengembangan ekonomi nasional perlu mulai mengoptimalkan kawasan utara yang berbatasan langsung dengan negara-negara berpenduduk besar di Asia.
Ia mencontohkan Bali yang dinilai sudah mengalami kejenuhan wisata, sementara potensi wilayah lain di Indonesia masih terbuka luas. Menurutnya, pasar wisata dari Australia dan Selandia Baru relatif kecil jika dibandingkan potensi kawasan utara yang mencakup China, India, ASEAN, Jepang, Korea Selatan, hingga Rusia dengan total populasi mencapai miliaran jiwa.
Tifatul juga menyoroti kekuatan ekonomi negara-negara di kawasan tersebut dengan menyebut besarnya Produk Domestik Bruto (PDB) China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Ia menilai Indonesia perlu mengalihkan orientasi pembangunan agar tidak hanya fokus ke selatan, tetapi juga membuka akses ekonomi, pariwisata, dan perdagangan ke utara.
Kawasan seperti Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Papua disebutnya sebagai simpul penting “Ekonomi Utara” yang berhadapan langsung dengan pasar global Asia Timur dan Asia Selatan. Ia juga menyoroti posisi strategis Karimun di Selat Malaka yang menjadi salah satu jalur pelayaran tersibuk dunia.
Menurut Tifatul, Selat Malaka selama ini memberikan keuntungan besar bagi Singapura, sementara wilayah Indonesia di sekitarnya belum memaksimalkan potensi tersebut. Ia membandingkan aktivitas peti kemas Singapura yang mencapai puluhan juta TEU per tahun dengan Pelabuhan Batu Ampar di Batam yang masih di bawah satu juta TEU.
Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad turut menegaskan bahwa posisi Kepri sangat strategis karena berada di jalur perdagangan internasional dengan ribuan pulau dan ratusan pulau berpenghuni. Ia menyebut Selat Malaka sebagai salah satu dari 10 titik perdagangan dunia dengan arus kapal yang sangat padat.
Sejumlah potensi investasi di Kepri juga dipaparkan, termasuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) seperti KEK industri, digital, logistik, hingga kesehatan. Pemerintah daerah berharap transformasi ekonomi ini dapat menjadikan Kepri sebagai pusat pertumbuhan baru di kawasan utara Indonesia.
Bupati Karimun Ing Iskandarsyah menilai diperlukan perubahan paradigma dalam pembangunan wilayah perbatasan, dari pendekatan keamanan menjadi penguatan ekonomi berbasis perdagangan, industri, dan konektivitas. Ia juga menyoroti perlunya penguatan kelembagaan dan regulasi agar pengelolaan kawasan strategis lebih optimal.
Lokakarya tersebut juga dihadiri pimpinan PKS, anggota DPR RI F-PKS, akademisi, pelaku usaha, serta pemangku kepentingan daerah. Forum ini menghasilkan dorongan bersama agar Karimun dan wilayah Kepri dapat lebih aktif mengambil peran dalam rantai ekonomi global. MK-mun
Redaktur : Munawir Sani
