Kepala SMKN 2 Bunguran Timur, Raden Roro Retno Widajanti ditemui Sabtu (9/5/2026). (Foto: nang)
NATUNA (marwahkepri.com) – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Bunguran Timur terus berupaya mengembangkan pendidikan berbasis dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Namun, keterbatasan lahan dan pasokan air masih menjadi kendala utama dalam pengembangan praktik siswa.
Kepala SMKN 2 Bunguran Timur, Raden Roro Retno Widajanti, mengatakan, saat ini sekolah lebih membutuhkan tambahan lahan dibanding sarana dan prasarana lainnya.
Menurutnya, fasilitas pendidikan yang dimiliki sekolah sudah cukup memadai dan sesuai standar. Akan tetapi, sekolah belum memiliki area khusus untuk pengembangan kewirausahaan terpadu bagi para siswa.
“Kami yang butuh itu lahan. Kalau untuk sarana prasarana sudah standar, karena kami belum memiliki tempat sebagai kewirausahaan terpadu,” ujarnya, Sabtu 9 Mei 2026.
Ia menjelaskan, keberadaan lahan tambahan nantinya sangat penting untuk mendukung pengembangan produk siswa jurusan kuliner maupun perhotelan agar dapat dipamerkan dan dipasarkan secara lebih maksimal.
“Bagaimana supaya kuliner bisa menjual produknya, bagaimana perhotelan seperti yang tadi kita berikan kepada tamu bisa menjadi ruang pamer anak-anak dan masyarakat Natuna tahu bahwa di dalam ini ada sekolah, kami berharapnya seperti itu,” katanya.
Saat ini, jurusan kuliner SMKN 2 Bunguran Timur secara rutin telah memproduksi berbagai makanan olahan seperti roti manis dan mochi.
Produk-produk tersebut bahkan sudah mulai dipasarkan melalui kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri.
“DUDI yang bisa kita jalin sampai hari ini yaitu Natuna Dive Resort (NDRA), produk kita ada di sana,” jelasnya.
Sementara itu, untuk jurusan perhotelan, sekolah ini juga telah menjalin kerja sama layanan laundry dengan NDR.
Namun pelaksanaan praktik siswa masih belum berjalan optimal karena keterbatasan air bersih di lingkungan sekolah.
“Untuk yang perhotelan, laundry kita sudah kerja sama dengan NDR, hanya saja eksekusinya terkendala di air,” ungkapnya.
Ia menegaskan, kebutuhan air bersih menjadi hal paling mendesak untuk menunjang pembelajaran praktik siswa, khususnya pada program keahlian perhotelan.
“Yang kami butuhkan sebenarnya untuk pembelajaran itu air, karena anak-anak belum bisa praktik laundry secara standar DUDI akibat kebutuhan air yang sangat penting,” pungkasnya. MK-nang
Redaktur: Munawir Sani
