Sebanyak 188,7 ton cengkih resmi asal Natuna diberangkatkan menuju Semarang, Jawa Tengah, setelah dinyatakan bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) oleh Badan Karantina Indonesia (Barantin). (Foto: nang)
NATUNA (marwahkepri.com) – Komoditas unggulan Natuna kembali menembus pasar antar daerah. Sebanyak 188,7 ton cengkih resmi diberangkatkan menuju Semarang, Jawa Tengah, setelah dinyatakan bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) oleh Badan Karantina Indonesia (Barantin).
Melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Karantina) Kepulauan Riau, seluruh komoditas cengkih tersebut telah menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan dan kelayakan sebelum dikirim sebagai bahan baku industri.
Kepala Karantina Kepulauan Riau, Hasim, mengatakan bahwa proses sertifikasi dilakukan mulai dari pemeriksaan administrasi hingga pengujian laboratorium untuk memastikan komoditas aman dan bebas dari hama karantina.
“Sampel cengkih diambil untuk pengujian laboratorium Karantina Tumbuhan di Batam. Berdasarkan hasil pengujian, cengkih tersebut dinyatakan bebas dari kumbang tanduk panjang (Hexamitodera semivelutina), sehingga dapat diterbitkan Sertifikat Kesehatan Tumbuhan Antar Area (KT-3),” ujar Hasim dalam siaran persnya, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, petugas Karantina Satuan Pelayanan Natuna telah memeriksa total 188,7 ton cengkih, yang terdiri dari 152,7 ton bunga cengkih dan 36 ton tangkai cengkih.
Data Karantina Kepri menunjukkan tren pengiriman cengkih Natuna terus meningkat. Pada Triwulan I tahun 2026 tercatat sebanyak 15,84 ton cengkih telah disertifikasi, sedangkan pada periode April hingga Mei mencapai 78,82 ton.
Cengkih Natuna selama ini dikenal memiliki kualitas unggul dengan aroma yang kuat dan cita rasa khas. Karakteristik tersebut menjadikannya komoditas yang banyak dicari untuk memenuhi kebutuhan industri rokok, parfum, hingga kosmetik.
Produksi cengkih Natuna berasal dari sejumlah wilayah kepulauan, seperti Serasan, Pulau Laut, Midai, Pulau Tiga, Bunguran, Sedanau, dan beberapa pulau lainnya.
Hasim menilai komoditas cengkih memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian masyarakat pesisir dan kepulauan.
Selama ini sektor perikanan menjadi tulang punggung ekonomi Natuna. Namun meningkatnya volume pengiriman cengkih menunjukkan sektor pertanian juga memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi daerah.
“Pengiriman cengkih ini membuktikan sektor pertanian terus produktif di tengah kondisi global yang tidak pasti. Pertanian mampu menopang denyut nadi perekonomian daerah perbatasan,” katanya.
Penerbitan Sertifikat Kesehatan Tumbuhan Antar Area (KT-3) menjadi syarat penting untuk menjamin komoditas yang dikirim bebas dari hama dan penyakit tumbuhan yang berpotensi menyebar ke wilayah lain di Indonesia.
Selain memastikan keamanan komoditas, layanan karantina juga memberikan kemudahan bagi pelaku usaha melalui aplikasi Permohonan Tindakan Karantina (PTK) Online, yang dinilai sangat membantu masyarakat Natuna mengingat kondisi geografis wilayah yang tersebar di pulau-pulau. MK-nang
Redaktur: Munawir Sani
