kemenu

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno, usai rapat koordinasi (rakor) dengan pemerintah kabupaten Natuna, Rabu, 26 Agustus 2026. (Foto: nang)

‎NATUNA (marwahkepri.com) – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mendorong pengembangan teknologi penyimpanan dan produksi es berbasis energi surya untuk mendukung nelayan di Natuna.
‎
‎Hal ini diungkapkan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno, usai mengadakan rapat koordinasi (rakor) dengan pemerintah kabupaten Natuna, Rabu, 26 Agustus 2026.
‎
‎Arif mengatakan, teknologi yang dikenal dengan solar ice maker tersebut sebelumnya telah diterapkan melalui proyek percontohan di Kawa, Maluku, dan dinilai berhasil mengurangi tingkat penolakan ikan akibat kerusakan kualitas.
‎
‎Program tersebut kata dia memanfaatkan panel surya untuk memproduksi es balok yang kemudian digunakan nelayan untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan.
‎
‎Di daerah Kawa, penerapan teknologi itu memberikan perubahan signifikan. Sebelum adanya fasilitas penyimpanan dan es, sekitar 60 persen hasil tangkapan nelayan mengalami penolakan karena kualitas ikan menurun.
‎
‎Setelah program diterapkan, tingkat penerimaan hasil tangkapan disebut mencapai 99 persen. Bahkan produksi ikan meningkat hingga sekitar 120 ton per bulan.
‎
‎”Jadi kita ingin replikasi program serupa di Natuna. Kondisi geografis Natuna yang merupakan wilayah kepulauan dinilai memiliki kemiripan dengan Maluku, terutama terkait jarak antarpulau dan ketergantungan masyarakat terhadap sektor perikanan,” ujarnya.
‎
‎Dijelaskannya, dalam skema yang telah diterapkan di Maluku, pembangunan awal fasilitas tersebut didukung pendanaan dari lembaga internasional. Setelah berjalan, pengadaan dan pengoperasian peralatan dilakukan oleh pihak swasta.
‎
‎Nelayan kemudian dapat memperoleh es secara gratis dan menjalin kerja sama pemasaran hasil tangkapan dengan perusahaan pengelola.
‎
‎Model tersebut dinilai berpotensi diterapkan di Natuna dengan pasar yang lebih dekat. Selain pasar domestik, hasil perikanan Natuna memiliki peluang untuk dipasarkan ke sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Jepang, hingga Tiongkok.
‎
‎Pengembangan fasilitas penyimpanan dingin dan produksi es tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas hasil tangkapan sekaligus memperkuat posisi nelayan Natuna dalam rantai perdagangan perikanan, termasuk membuka peluang pasar ekspor.
‎
‎Selain persoalan fasilitas pascapanen, dukungan terhadap akses pasar juga dinilai penting. Pemerintah pusat melalui Kemenlu memiliki peran dalam membuka dan memperluas akses pasar internasional bagi produk perikanan Natuna.
‎
‎”Jadi salah satu pengalaman yang pernah dilakukan yakni terkait perjuangan membuka kembali peluang ekspor ikan Napoleon dari wilayah Natuna dan Anambas melalui komunikasi dengan lembaga internasional CITES,” kata Arif.
‎
‎Upaya tersebut menunjukkan bahwa penguatan sektor perikanan Natuna tidak hanya membutuhkan peningkatan produksi, tetapi juga dukungan teknologi pascapanen, fasilitas penyimpanan, serta akses pasar internasional.
‎
‎Sementara itu, Bupati Natuna Cen Sui Lan, menyambut baik dan berharap program tersebut bisa terealisasikan di wilayah Natuna.
‎
‎Dengan terwujudnya program itu, maka akan berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat, terutama bagi para nelayan.
‎
‎”Ya, kita mengucapkan terimakasih kepada pak Wamen yang ingin membuat program ini di Natuna. Semoga nanti bisa terwujud demi mendongkrak perekonomian,” katanya. (nang)

Baca Juga:  Viral Dugaan Begal di Simpang Tobing Batam, Polsek Sagulung Pastikan Cekcok yang Berujung Penganiayaan

Redaktur: Munawir Sani