Elon Musk berdiri di depan logo Tesla dan SpaceX

Elon Musk berdiri di depan logo Tesla dan SpaceX. (f: ai)

JAKARTA (marwahkepri.com) — Miliarder teknologi Elon Musk dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah besar dengan menggabungkan Tesla dan SpaceX menjadi satu entitas raksasa teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Isu merger dua perusahaan besar milik Elon Musk itu mencuat setelah saham SpaceX disebut akan mulai diperdagangkan dalam dua pekan mendatang. SpaceX sendiri sebelumnya mencapai valuasi pasar privat sekitar USD 1,25 triliun usai merger dengan perusahaan AI milik Musk lainnya, xAI.

Sementara itu, kapitalisasi pasar Tesla saat ini berada di kisaran USD 1,6 triliun. Jika kedua perusahaan benar-benar digabungkan, Elon Musk diperkirakan akan semakin memperkuat dominasinya di sektor teknologi global, terutama di bidang AI, kendaraan listrik, dan industri antariksa.

Menurut sejumlah sumber internal, Musk telah berdiskusi dengan rekan-rekannya terkait kemungkinan peleburan bisnis Tesla dan SpaceX. Bahkan, sejumlah karyawan lama Tesla disebut sudah lama menduga merger tersebut pada akhirnya akan terjadi.

Meski terlihat bergerak di sektor berbeda, Tesla dan SpaceX kini sama-sama fokus pada pengembangan AI, pusat data, serta kebutuhan komputasi skala besar. Kedua perusahaan juga diketahui telah lama berbagi sumber daya, teknologi, hingga tenaga kerja.

Lebih dari 75 persen belanja modal SpaceX senilai USD 10,1 miliar pada kuartal pertama 2026 disebut dialokasikan untuk pengembangan AI. Di sisi lain, Tesla juga mengumumkan peningkatan belanja modal hingga tiga kali lipat tahun ini dengan nilai lebih dari USD 25 miliar.

“Telsa harus menjalankan sistem AI yang kuat di kendaraan, sementara SpaceX membutuhkan komputasi di orbit,” ujar Tomasz Tunguz, investor dari Theory Ventures.

Hubungan bisnis antara Tesla dan SpaceX juga semakin erat dalam beberapa tahun terakhir. Tesla diketahui telah menginvestasikan USD 2 miliar ke perusahaan AI xAI milik Musk. Setelah merger xAI dengan SpaceX, investasi tersebut otomatis menjadi bagian dari ekosistem SpaceX.

Selain itu, SpaceX juga membeli sistem baterai Megapack Tesla senilai USD 697 juta untuk mendukung pusat data AI milik xAI. Bahkan, SpaceX tercatat membeli Tesla Cybertruck senilai USD 131 juta sepanjang 2025.

Kolaborasi kedua perusahaan juga meliputi penggunaan teknologi logam khusus untuk Cybertruck, pembelian perangkat tenaga surya, hingga penggunaan jet pribadi SpaceX oleh Tesla.

Sejumlah analis menilai merger Tesla dan SpaceX tidak akan memicu persoalan antimonopoli besar. Namun, proses penggabungan diperkirakan akan memunculkan tantangan kompleks terkait struktur kepemilikan saham, perusahaan induk, hingga perlindungan investor.

Karena Elon Musk menguasai sekitar 85 persen hak suara di SpaceX, proses persetujuan internal diyakini tidak akan menemui hambatan berarti.

CEO Gerber Kawasaki, Ross Gerber, menilai merger tersebut bisa menjadi langkah Elon Musk untuk mewujudkan ambisinya membangun satu perusahaan teknologi super besar yang mampu bersaing langsung dengan raksasa AI seperti Google.

Jika terealisasi, penggabungan Tesla dan SpaceX berpotensi menjadi salah satu merger teknologi terbesar dalam sejarah industri modern. MK-dtc

Redaktur : Munawir Sani