Pemerintah Kabupaten Natuna mendorong penurunan tarif angkutan kapal Ro-Ro guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. (f: nang)
Kondisi tersebut menyebabkan harga produk lokal sulit bersaing dengan daerah lain, sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi di wilayah kepulauan.
Persoalan itu menjadi perhatian serius Bupati Natuna, Cen Sui Lan. Pemerintah Kabupaten Natuna kini menempuh berbagai langkah agar biaya logistik dapat ditekan sehingga hasil pertanian, perikanan, dan produk UMKM memiliki peluang lebih besar menembus pasar di luar daerah.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop) Kabupaten Natuna, Marwan Syaputra, mengatakan mahalnya ongkos angkut menjadi beban berat bagi pelaku usaha.
Saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (13/7/2026), Marwan menjelaskan kendaraan bermuatan sekitar tujuh ton yang menggunakan kapal Ro-Ro bersubsidi masih harus mengeluarkan biaya sekitar Rp25 juta untuk perjalanan pulang pergi.
“Kalau biaya pengiriman barang bisa ditekan hingga sekitar Rp1.000 per kilogram, saya yakin UMKM Natuna akan hidup dan mampu bersaing di luar daerah. Selama ongkos logistik masih tinggi, harga produk kita akan kalah bersaing,” ujarnya.
Menurut Marwan, tingginya biaya distribusi tidak hanya membebani pelaku UMKM, tetapi juga memengaruhi harga berbagai kebutuhan pokok di Natuna. Karena itu, perbaikan sistem logistik menjadi salah satu kunci untuk menggerakkan perekonomian daerah.
Bupati Natuna, Cen Sui Lan, juga memberikan perhatian khusus terhadap persoalan tersebut. Ia menilai sistem pembelian tiket kapal Ro-Ro yang masih dilakukan di setiap pelabuhan persinggahan justru menambah beban biaya bagi pengguna jasa.
“Setiap singgah di pelabuhan kita harus membeli tiket lagi. Selain merepotkan, biaya perjalanan juga menjadi lebih mahal,” kata Cen.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Natuna mengusulkan perubahan sistem pembelian tiket agar penumpang maupun kendaraan dapat membeli tiket langsung hingga tujuan akhir tanpa harus melakukan transaksi di setiap pelabuhan persinggahan.
Selain itu, Pemkab Natuna juga berencana menggelar rapat bersama Kementerian Perhubungan guna membahas solusi penurunan tarif angkutan barang maupun kendaraan melalui kapal Ro-Ro.
Langkah tersebut diharapkan mampu menekan biaya logistik sehingga produk pertanian, perikanan, dan berbagai hasil UMKM Natuna dapat dipasarkan dengan harga yang lebih kompetitif di luar daerah.
Bagi Cen Sui Lan, upaya menurunkan ongkos angkut bukan sekadar persoalan transportasi, tetapi merupakan strategi membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal.
Dengan biaya distribusi yang lebih terjangkau, produk-produk unggulan Natuna diharapkan mampu meningkatkan daya saing, memperluas pasar, mendorong pendapatan masyarakat, serta menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. MK-nang
Redaktur : Munawir Sani
