Hasil investigasi BGN keracunan MBG Anambas mengandung boraks dan bakteri

BGN mengungkap hasil investigasi keracunan MBG di Anambas yang ditemukan mengandung boraks dan bakteri berbahaya. (Foto: Sidak BGN)

ANAMBAS (marwahkepri.com) – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap hasil pemeriksaan kasus keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Air Asuk, Kabupaten Kepulauan Anambas yang menyebut makanan terbukti mengandung boraks serta terkontaminasi bakteri E. coli dan Bacillus cereus.

Ketua Tim Investigasi BGN, Arie Karimah Muhammad, mengatakan hasil tersebut diperoleh dari dua tahap pemeriksaan. Pemeriksaan awal dilakukan melalui uji cepat oleh Dinas Kesehatan setempat, kemudian dilanjutkan dengan uji laboratorium oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan.

“Hasil rapid test menunjukkan adanya kandungan boraks pada menu telur kecap, tempe goreng, dan tumis sayuran, dengan kadar berkisar 100 hingga 5.000 mg/L,” kata Arie, Minggu (3/5/2026), dikutip dari Antara.

Arie menegaskan penggunaan boraks pada makanan tersebut tidak diperbolehkan, terlebih pada menu seperti telur, tempe, dan sayur yang tidak memerlukan tambahan pengawet kimia.

“Ini jadi perhatian serius karena penggunaannya tidak sesuai dan berisiko bagi kesehatan,” ujarnya.

Selain boraks, hasil uji laboratorium juga menemukan kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) dan Bacillus cereus pada makanan yang dikonsumsi siswa.

Baca Juga:  Kepri Dorong Inovasi Cross Border Tourism, Minta Dukungan Pemerintah

Sebelumnya, seratusan murid dari tingkat PAUD hingga SMP di Kabupaten Kepulauan Anambas mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG. Sejumlah orang tua murid juga dilaporkan mengalami gejala serupa karena ikut mengonsumsi makanan yang dibawa pulang anak.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Anambas, Feri Oktavia, mengatakan kejadian tersebut terjadi pada Rabu (16/4/2026). Ia menyebut siswa yang terdampak berasal dari berbagai sekolah dan jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD hingga SMP.

“Bukan dari satu sekolah saja, tapi dari beberapa sekolah berbeda. Makanannya dari satu SPPG,” jelasnya.

Feri menambahkan sejumlah orang tua murid ikut keracunan karena mengonsumsi jatah makanan anak atau cucunya yang dibawa pulang.

“Ada juga orang tua yang ikut keracunan karena makan jatah anak atau cucunya yang dibawa pulang,” ujarnya. MK-mun

Redaktur: Munawir Sani