India Bersiap Kirim Astronaut ke Orbit Lewat Misi Gaganyaan
Ilustrasi pesawat ruang angkasa Gaganyaan milik India yang dipersiapkan untuk misi berawak. (f: meta)
Kini, ISRO telah mengesahkan roket peluncur LVM3 untuk misi berawak dan menargetkan tiga peluncuran tak berawak pesawat ruang angkasa Gaganyaan pada 2026. Apabila seluruh rangkaian uji coba berjalan sesuai rencana, penerbangan berawak pertama India berpeluang dilakukan paling cepat pada 2027.
Empat calon astronot atau Gaganyatri yang dipilih dari kalangan pilot Angkatan Udara India adalah Prasanth Balakrishnan, Ajit Krishnan, Angad Pratap, dan Shubhanshui Shukla. Mereka dipersiapkan untuk menjadi manusia pertama India yang terbang ke orbit menggunakan wahana buatan dalam negeri.
Keberhasilan misi ini akan menempatkan India sejajar dengan Amerika Serikat, Uni Soviet/Rusia, dan Cina sebagai negara yang mampu mengirim manusia ke luar angkasa menggunakan teknologi sendiri.
Penulis dan peneliti sains antariksa asal Inggris, Gurbir Singh, menilai program Gaganyaan memiliki dimensi geopolitik yang kuat. Menurutnya, misi ini lebih dari sekadar pencapaian ilmiah.
“Tujuannya sebenarnya kurang bersifat ilmiah dan lebih bersifat geopolitik. Ini untuk memastikan India punya posisi di antara pemain besar, dan semua pemain besar itu memiliki program penerbangan antariksa berawak,” kata Singh kepada DW.
Di sisi lain, India telah mencatatkan sejumlah prestasi penting dalam eksplorasi antariksa. Pada 2023, misi Chandrayaan-3 berhasil mendarat di Bulan, menjadikan India negara keempat yang mencapai prestasi tersebut, sekaligus yang pertama mendarat di wilayah Kutub Selatan Bulan. Sebelumnya, pada 2014, India juga sukses mengirimkan wahana Mars Orbiter ke Planet Merah.
Singh menilai kontribusi terbesar ISRO justru terletak pada program sainsnya. Namun, ia mengakui bahwa manfaat geopolitik dari misi berawak jauh lebih besar dibandingkan nilai ekonominya.
“Satu-satunya alasan India melakukan ini adalah karena, meski manfaat ekonominya lebih kecil, manfaat geopolitiknya jauh lebih besar,” ujarnya.
Ke depan, ISRO juga menjadwalkan sejumlah misi sains baru, termasuk misi pengambilan sampel dari Bulan dan Mars, serta pengiriman wahana untuk mempelajari atmosfer Venus.
Ambisi antariksa India juga mencakup pembangunan stasiun luar angkasa nasional. Perdana Menteri Narendra Modi menargetkan modul pertama stasiun tersebut dapat ditempatkan di orbit pada 2028, serta mencanangkan visi agar astronot India dapat menjejakkan kaki di Bulan pada 2040.
Dalam mewujudkan ambisi tersebut, India menjalin kerja sama dengan berbagai kekuatan antariksa dunia. Dengan Amerika Serikat, India berkolaborasi dalam proyek satelit Synthetic Aperture Radar. Sementara dengan Badan Antariksa Eropa (ESA), India bekerja sama dalam misi orbit rendah dan pelatihan astronaut.
Di sisi lain, India juga akan menerima mesin roket semi-kriogenik dari Rusia, yang disepakati dalam kunjungan kenegaraan Presiden Vladimir Putin pada Desember 2025. Singh menilai dukungan tersebut akan meningkatkan kemampuan peluncuran India yang masih terbatas.
“India memiliki sejarah yang unik dan telah melangkah sangat jauh dalam waktu singkat, membangun infrastruktur antariksa melalui proyek-proyek kolaboratif selama lebih dari enam dekade,” pungkas Singh. MK-dtc
Redaktur : Munawir Sani
