Putra Mahkota Iran di Pengasingan Kembali Panggil Rakyat Turun ke Jalan
Reza Pahlavi. (f: AFP)
JAKARTA(marwahkepri.com) — Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang hidup di pengasingan sejak Revolusi Islam 1979, kembali menyerukan aksi demonstrasi besar-besaran di Iran. Seruan itu disampaikan melalui media sosial, menyusul gelombang protes terbaru yang menurutnya memiliki jumlah peserta “belum pernah terjadi sebelumnya”.
Reza Pahlavi menyebut telah menerima laporan bahwa pemerintah Iran berada dalam kondisi tertekan dan kembali berupaya memutus akses internet untuk meredam aksi protes. Ia menilai langkah tersebut sebagai tanda ketakutan rezim terhadap gelombang perlawanan publik yang semakin meluas.
Sebagai putra sulung Shah Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan pada 1979, Reza sejak kecil dipersiapkan untuk mewarisi takhta monarki Iran. Namun, revolusi mengubah segalanya. Saat kerajaan runtuh, ia tengah menjalani pendidikan sebagai pilot tempur di Amerika Serikat dan tidak pernah kembali ke tanah air.
Setelah kehilangan kewarganegaraan dan hidup berpindah-pindah di pengasingan, keluarga Pahlavi mengalami berbagai tragedi, termasuk kematian tragis dua adik Reza. Sejak itu, ia menjadi simbol terakhir dari dinasti Pahlavi, meski monarki Iran telah lama berakhir.
Kini di usia 65 tahun, Reza Pahlavi berusaha mengambil peran lebih aktif dalam politik Iran. Dari kediamannya di dekat Washington DC, ia menyatakan kesiapannya membantu memimpin pemerintahan transisi apabila Republik Islam Iran runtuh. Ia bahkan telah memaparkan rencana 100 hari pemerintahan sementara yang bertujuan mengantar Iran menuju pemilu bebas.
Reza menegaskan bahwa perjuangannya bukan untuk menghidupkan kembali masa lalu, melainkan membangun masa depan Iran yang demokratis. Ia menolak kekerasan, menentang kelompok bersenjata, dan menyerukan transisi damai melalui referendum nasional untuk menentukan bentuk negara, apakah monarki atau republik.
Meski demikian, sosok Reza Pahlavi tetap menuai kontroversi. Sebagian warga Iran mengenang era Pahlavi sebagai masa modernisasi dan keterbukaan terhadap Barat, sementara yang lain mengingatnya sebagai periode otoritarian dengan represi politik oleh polisi rahasia Savak.
Popularitasnya di dalam negeri juga fluktuatif. Upaya membangun koalisi oposisi selama puluhan tahun di pengasingan dinilai belum menghasilkan struktur organisasi yang kuat. Kunjungannya ke Israel pada 2023 dan pernyataannya terkait serangan terhadap Iran turut memicu perdebatan tajam di kalangan publik Iran.
Meski begitu, di tengah meningkatnya tekanan terhadap rezim Teheran, nama Reza Pahlavi kembali mencuat sebagai figur oposisi yang dikenal luas di tingkat internasional. Apakah ia mampu mengubah simbol menjadi kekuatan politik nyata di dalam negeri, masih menjadi tanda tanya besar bagi masa depan Iran. MK-mun
Redaktur : Munawir Sani
