Draft Buku “Milestone Dumai” Diserahkan, Jawab Pertanyaan: Sejak Kapan Dumai Ada?

1

Ketua DKD Kota Dumai, Agoes S. Alam saat menyerahkan draft buku Milestone Dumai kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Dumai, Mukhlis Suzantri, S. Hut. T. MT. di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Dumai, Selasa (7/1/2026). F: dok. DKD

DUMAI (marwahkepri.com) – Sejarah panjang Kota Dumai sebelum era minyak dan pemekaran 1999 kini mulai terkuak. Draft buku berjudul “Milestone Dumai: Mencari Titik Awal Sebuah Kota” telah diserahkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Dumai pada Rabu, 7 Januari 2026. Naskah ini diharapkan menjadi karya monumental yang menjawab kegelisahan kolektif tentang asal-usul dan identitas historis kota pelabuhan ini.

Penyerahan dilakukan oleh Agoes S. Alam langsung kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Dumai, Mukhlis Suzantri, S. Hut. T. MT, didampingi tim dari Dewan Kesenian Kota Dumai (DKD) dan enam peneliti sejarah lokal. Acara yang berlangsung di Kantor Disdikbud tersebut menandai dimulainya babak baru dalam penulisan sejarah Dumai, yang selama ini lebih banyak bersandar pada narasi administratif modern.

“Kami percaya sebuah kota harus tahu dari mana ia bermula. Buku ini adalah ikhtiar untuk menemukan detak jantung pertama Dumai dalam arsip-arsip yang lama terbungkam,” kata Agoes S. Alam dalam penjelasannya.

Tiga Jejak Kunci yang Diungkap

Buku tersebut menyajikan tiga lapisan bukti sejarah yang selama ini tersebar dan belum tersintesiskan secara utuh:

  1. Bukti Etnografis Awal (1864): Melalui catatan perjalanan J.S.G. Gramberg, buku ini mengonfirmasi bahwa nama “Dumai” telah disebut secara eksplisit dan berulang sebagai sebuah komunitas yang hidup. Ini adalah pengakuan de facto tertua yang ditemukan.

  2. Bukti Kartografis yang Penuh Teka-Teki (1875-1882): Analisis mendalam terhadap Peta Leiden mengungkap fenomena menarik: pada 1875, nama “Doemei” belum tercantum, namun pada 1882, nama itu muncul dengan ejaan kolonial yang baku. Buku ini mempertanyakan peristiwa politik atau surat legitimasi dari Kesultanan Siak yang terjadi dalam kurun tujuh tahun itu, yang menjadi dasar Belanda mencantumkannya di peta resmi.

  3. Bukti Politik-Formal (Korpus 1882-1884): Ini adalah temuan inti. Buku ini menyatakan bahwa dalam periode ini terdapat kumpulan dokumen—laporan perjalanan J.A. van Rijn van Alkemade (1884), surat, atau perjanjian—yang menunjukkan pengakuan “Doemei” sebagai entitas politik dalam hubungan antara Kesultanan Siak dan Hindia Belanda. Inilah yang diduga sebagai momen de jure atau “kelahiran politik” Dumai.

“Kami tidak hendak menggantikan tanggal 20 April 1999. Kami ingin melengkapinya dengan fondasi historis yang jauh lebih tua, agar identitas kita sebagai orang Dumai tidak terasa mendadak, tetapi berakar panjang,” papar Agoes.

Kepala Disdikbud Kota Dumai, yang menerima langsung draft tersebut, menyatakan komitmennya untuk memproses naskah ini hingga siap terbit. “Ini adalah upaya penting. Pemerintah akan mendukung penuh proses penyuntingan akhir dan penerbitannya, sehingga ke depan buku ini dapat menjadi rujukan wajib di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi,” ujarnya.

Milestone Dumai diharapkan tidak hanya memenuhi rak perpustakaan, tetapi juga menjadi pemantik kesadaran bahwa Kota Minyak ini menyimpan jiwa lama: “Doemei”, sebuah entitas pesisir yang telah bernegosiasi dengan kekuasaan dan sejarah, jauh sebelum kilang pertama berdiri. MK-r

Redaktur: Munawir Sani