Krisis Ekonomi Iran Picu Demo Nasional, Inflasi Pangan Tembus 72 Persen

Iran-MEU-2022-1751887064

Negara Iran. (f: getty)

JAKARTA(marwahkepri.com) –  Gelombang demonstrasi berdarah di Iran terus berlanjut dan memasuki hari keenam pada Jumat (2/1/2026). Aksi protes yang awalnya dipicu krisis ekonomi kini meluas ke berbagai wilayah dan berubah menjadi perlawanan terbuka terhadap pemerintah, diiringi bentrokan sengit antara massa dan aparat keamanan.

Aksi unjuk rasa bermula pada Minggu (28/12/2025) ketika para pemilik toko di Teheran menutup tempat usaha mereka sebagai bentuk protes atas melonjaknya biaya hidup. Krisis ekonomi Iran semakin memburuk setelah nilai tukar rial anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat pada akhir Desember lalu.

Meski pemerintah Iran menjanjikan reformasi ekonomi dan pemberantasan korupsi, protes justru semakin meluas. Demonstrasi yang semula bersifat ekonomi berubah menjadi gerakan politik setelah keresahan menjalar ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa dan kelompok sipil lainnya.

Dalam waktu singkat, aksi protes menyebar ke 17 dari total 31 provinsi di Iran, terutama saat malam pergantian tahun. Ribuan warga turun ke jalan, sementara aparat keamanan merespons dengan tindakan keras di sejumlah daerah.

Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan sedikitnya tujuh orang tewas akibat bentrokan antara demonstran dan aparat. Tiga orang dilaporkan meninggal di Lordegan, Iran barat daya, tiga lainnya di Azna, serta satu korban jiwa di Kouhdasht, Iran bagian tengah. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa sebagian demonstran melempari gedung pemerintahan, bank, masjid, dan kantor layanan publik.

Krisis ekonomi Iran dipicu oleh sanksi internasional yang berkepanjangan, menyebabkan keterbatasan akses ke pasar keuangan global serta pembekuan aset luar negeri. Pada Minggu pekan lalu, nilai tukar rial jatuh hingga menyentuh angka 1,42 juta per dolar AS, atau melemah sekitar 56 persen hanya dalam enam bulan terakhir.

Anjloknya nilai mata uang tersebut berdampak langsung pada inflasi, terutama harga bahan pangan yang melonjak rata-rata hingga 72 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ketergantungan Iran terhadap impor turut memperparah tekanan ekonomi masyarakat.

Sejumlah warga mengeluhkan lonjakan harga kebutuhan pokok yang dinilai sudah tidak terkendali. Kondisi ini menjadi pemicu utama kemarahan publik yang kemudian meluas menjadi aksi protes nasional, menandai salah satu krisis sosial dan ekonomi terbesar Iran dalam beberapa tahun terakhir. MK-mun

Redaktur : Munawir Sani