Tiga Siklon Aktif Dekati Indonesia, Picu Cuaca Ekstrem dan Bencana Hidrometeorologi
Hujan deras turun di Kota Batam, Selasa (16/12/2025). (Foto: mun)
JAKARTA (marwahkepri.com) – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathanah mengungkapkan saat ini terdapat tiga sistem siklon yang memengaruhi dinamika cuaca di wilayah Indonesia dan sekitarnya.
Kondisi tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi.
Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah Siklon Tropis Bakung yang terpantau berkembang di Samudra Hindia barat daya Lampung. Faisal mengatakan, siklon tersebut sempat meningkat dari kategori satu menjadi kategori dua, bahkan sempat menyentuh kategori tiga pada 14 Desember 2025.
“Kecepatan anginnya sempat mencapai 65 knot. Ini sangat berbahaya, namun kemudian melemah kembali ke kategori dua dan saat ini diharapkan terus turun mendekati kategori satu,” kata Faisal dalam Sidang Kabinet Paripurna yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Kabinet, Senin (15/12/2025).
BMKG, lanjut Faisal, telah melakukan koordinasi dengan lembaga meteorologi internasional seperti Australia, Jepang, dan India untuk memperbarui prediksi pergerakan dan dampak Siklon Tropis Bakung terhadap Indonesia.
Selain itu, Faisal menjelaskan Siklon Tropis Senyar sebelumnya juga berperan dalam memicu cuaca ekstrem dengan curah hujan sangat tinggi. Kombinasi kondisi cuaca tersebut dengan kerusakan ekologi menjadi salah satu faktor penyebab banjir besar di Sumatera pada akhir November 2025.
“Walaupun Siklon Senyar hanya kategori satu, awan hujannya sangat banyak dan terperangkap di antara Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaysia selama dua hingga tiga hari,” ujarnya.
Di wilayah selatan Bali, Nusa Tenggara, dan Jawa Timur, BMKG juga memantau keberadaan Bibit Siklon 93S yang berpotensi memicu hujan lebat. Sementara itu, pada Senin siang (15/12/2025), terdeteksi pula Bibit Siklon 95S yang meningkatkan peluang hujan tinggi hingga sangat tinggi, serta memicu gelombang tinggi di perairan sekitar.
Faisal turut menyinggung pengaruh anomali iklim global terhadap kondisi cuaca nasional. Menurutnya, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia saat ini cenderung lebih dingin, sementara perairan Indonesia justru lebih hangat dari normal.
“Indonesia saat ini seperti menjadi mesin uap atau tungku yang memicu pembentukan awan tinggi dan pertumbuhan siklon tropis. Ini akibat anomali iklim global sehingga potensi bencana hidrometeorologi meningkat,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, BMKG bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD, serta Kantor SAR dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Upaya ini dilakukan dengan menyemai bahan tertentu pada awan guna mengendalikan intensitas hujan.
“OMC bisa digunakan untuk menurunkan hujan di lokasi yang lebih aman atau mencegah hujan di wilayah rawan,” kata Faisal.
Saat ini, enam provinsi telah melaksanakan OMC, termasuk Jawa Barat dan Jawa Timur, yang berhasil menurunkan curah hujan sebesar 20 hingga 50 persen. Program tersebut akan dilanjutkan di Lampung, Jawa Tengah, dan Bali.
“Ini sangat membantu dalam mitigasi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem,” pungkasnya. MK-mun/dtk
Redaktur: Munawir Sani
