Ilustrasi tempat hiburan. (Foto: Kompas)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Masyarakat khususnya pelaku usaha hiburan dan pariwisata baru-baru ini dibuat heboh dengan kabar kenaikan tarif pajak hiburan hingga 75 persen.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan bahwa tidak semua tarif pajak barang jasa tertentu (PBJT) jasa kesenian dan hiburan atau pajak hiburan naik menjadi 40 persen hingga 75 persen.

Direktur Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Lydia Kurniawati Christyana menyebutkan bahwa ada sekitar 12 jenis pajak hiburan yang diatur. Sehingga, ia meminta agar publik tidak menggeneralisasi seluruh pajak hiburan tersebut.

Lydia menuturkan bahwa menurutnya ketentuan tersebut bukan jenis kebijakan baru dan menjelaskan bahwa PBJT hiburan atau pajak hiburan telah lama diatur dalam Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Namun aturan tersebut diperbarui dalam UU Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (HKPD). Diketahui dalam UU tersebut pajak hiburan terhadap 11 jenis pajak ditetapkan paling tinggi sebesar 10 persen.

11 jenis pajak tersebut berdasarkan dari Pasal 55 UU Nomor 1 Tahun 2022 di antaranya tontonan film atau bentuk tontonan audio visual lainnya yang dipertontonkan secara langsung di suatu lokasi tertentu; pergelaran kesenian, musik, tari, dan/atau busana; kontes kecantikan.

Kemudian kontes binaraga; pameran; serta pertunjukan sirkus, akrobat, sulap, pacuan kuda dan perlombaan kendaraan bermotor; permainan ketangkasan; olahraga permainan dengan menggunakan tempat/ruang dan/atau peralatan dan perlengkapan untuk olahraga dan kebugaran.

Selanjutnya rekreasi wahana air, wahana ekologi, wahana pendidikan, wahana budaya, wahana salju, wahana permainan, pemancingan, agrowisata, dan kebun binatang; serta panti pijat dan pijat refleksi.

Sementara itu untuk jenis hiburan diskotik, karaoke, kelab malam, bar dan mandi uap atau spa pemerintah memperbarui kebijakan dengan menetapkan batas bawah 40 persen dan batas atas 75 persen.

Perbedaan tersebut dengan mempertimbangkan jenis hiburan tersebut karena hanya dinikmati oleh golongan masyarakat tertentu. Sehingga, pemerintah menetapkan batas bawah guna mencegah perlombaan penetapan tarif pajak rendah demi meningkatkan omzet usaha.

Mengutip dari Kemenkeu, Lydia juga menjelaskan bahwa PBJT Jasa Kesenian dan Hiburan merupakan pajak daerah. Sehingga UU HKPD memberikan ruang kepada pemerintah daerah dengan memberikan wewenang atau diskresi untuk menetapkan dan menyesuaikan tarif PDRD sesuai dengan kondisi perekonomian di wilayah masing-masing.

“Ini adalah dukungan agar daerah semakin mandiri, semakin ketemu keseimbangan fiskalnya. Maka, kita perlu berpikir agar assignment-nya tidak hanya memberikan transfer ke daerah, tapi bagaimana mendukung daerah meningkatkan pendapatan mereka dengan kondisi tertentu yang perlu dilakukan pengendalian,” tuturnya. MK-mun

Redaktur: Munawir Sani

-
mgid.com, 846953, DIRECT, d4c29acad76ce94f