Dilarang di Luar Negeri Tapi Viral di Indonesia, Begini Sejarah Permainan Lato-Lato

Seorang pria tengah memainkan lato-lato. (F: radarutara)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Demam permainan lato-lato kian merebak hingga pelosok negeri. Bukan hanya anak-anak, tapi orang dewasa juga turut memainkan permainan yang lagi tren ini.

Baru-baru ini, viral lato-lato kena mata seorang bocah berinisial AN di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Meski digandrungi oleh banyak kalangan, rupanya lato-lato sempat dilarang di sejumlah negara.

Dilansir dari CNN Indonesia, usai bermain dari rumah temannya, AN pulang dengan luka di bagian mata setelah terkena serpihan bola lato-lato. Hal tersebut mengakibatkannya harus menjalani operasi mata lantaran terluka di bola matanya.

“Jadi ada perlukaan di bola matanya sehingga harus dioperasi dan dijahit tiga jahitan,” ucap Kadis Kesehatan Kubu Raya Marijan.

Usai dioperasi saat ini kondisi AN telah dinyatakan berangsur-angsur membaik. Meski demikian, penglihatan mata sebelah kanannya masih terganggu akibat insiden tersebut.

Kenapa bisa populer?
Dosen program studi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari mengungkapkan bahwa manusia berperan sebagai homo ludens atau mahkluk yang suka bermain selalu memiliki permainan tren di setiap eranya.

Dalam hal ini, tren permainan anak-anak maupun dewasa akan mengikuti perkembangan ekonomi dan zaman.

“Masing-masing zaman atau era selalu punya zeitgest atau yang kita sebut sebagai jiwa zaman. Kebetulan, sekarang permainan lato-lato. Siapa yang menyebabkan permainan tersebut populer, salah satunya produsen media permainan anak dan saya kira hal ini akan berulang pada waktu mendatang,” jelas dia dalam pernyataannya.

Sejarah Lato-lato yang Sempat Dilarang
Rupanya, insiden viral lato lato kena mata ini bukan yang pertama kalinya.

Namun alat serupa juga ada di Amerika. Lato-lato atau yang dikenal dengan clackers mulai muncul pada tahun 1960-an di Amerika Serikat dan Eropa. Dulunya, mainan ini terbuat dari kaca hingga kayu yang jika pecah, serpihannya dapat terpental dan mengakibatkan sejumlah kasus cedera mata.

Risiko insiden cedera mata dan luka ini mengakibatkan lato-lato sempat ditarik dari peredaran. Mengutip Groovy History, kasus tersebut kemudian mendorong perubahan bahan dasar kaca pada lato-lato menjadi plastik.

Namun, lato-lato yang terbuat dari plastik juga rupanya berpotensi untuk pecah. Berdasarkan laporan New York Times pada tahun 1971, tercatat setidaknya empat kasus cedera yang terjadi akibat bermain lato-lato. Akhirnya di tahun 1990-an, lato-lato dibuat lebih aman dengan bahan akrilik untuk menjadi mainan.

Menukil Quartz, beberapa insiden yang disebabkan oleh lato-lato pun membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FD) melarang peredaran mainan tersebut pada tahun 1966. Tak sedikit pula komunitas dan organisasi yang turut mendukung keputusan FDA.

Sebelum melakukan pelarangan, FDA sempat menguji sejumlah perusahaan untuk memeriksa potensi pecahnya lato-lato. Beberapa tahun setelah itu, Komisi Keamanan Produk Konsumen mulai muncul yang menyebabkan ketakutan lebih jauh terhadap mainan berbahaya.

Tak hanya di AS, mainan viral ini pun sempat dilarang untuk dimainkan di Inggris karena mengeluarkan bunyi yang sangat mengganggu kenyamanan dan menimbulkan kekacauan sosial.

Melansir Clover Cloud, lato-lato sempat melukai anak-anak di Inggris karena bahannya yang bisa meledak begitu saja ketika pecah. Tak sedikit kasus anak-anak yang mengalami patah tulang karena mainan lato-lato.

Seiring munculnya larangan dari pemerintah untuk memainkan lato-lato, akhirnya masyarakat Inggris pun mulai melupakan permainan ini. Sejumlah perusahaan lato-lato di Inggris pun sampai gulung tikar dan harus memulangkan semua karyawannya.

Lato-lato pun sempat menjadi kontroversi karena dianggap menyerupai dengan boleadora, yakni senjata yang digunakan oleh Koboy Argentina untuk menangkap hewan buruan.

Dalam bahasa aslinya disebut bolas atau boleadora yaitu alat berburu primitif yang dibuat untuk menangkap hewan.

Alat dengan dua bola dan tali yang dilemparkan ke arah hewan buruan ini akan menjerat kaki atau sayap hewan. Lato-lato menjadi senjata paling terkenal yang digunakan oleh pemburu atau gaucho di Amerika Selatan.

Bahaya lato-lato yang tak terkontrol seperti viral lato lato kena mata ini akhirnya membuat banyak orang melarang lato-lato. MK-cnn

Redaktur : Munawir Sani

Print Friendly, PDF & Email