Ketika Peraturan Dibuat Hanya untuk Dilanggar

Ilustrasi. (foto:net)

Oleh: Marzidan*

ADA salah satu kalimat terkenal yang bahkan orang awam pun tahu, yakni peraturan dibuat hanya untuk dilanggar.

Pernyataan ini sedikit menimbulkan pertanyaan mengenai darimana kata-kata tersebut berasal, tapi jika kita teliti lagi memang benar adanya. Tidak perlu jauh-jauh ke negara lain sebagai contoh dari pembicaraan ini. Peraturan yang bahkan oleh penegak peraturan atau biasa disebut sebagai hukum itu sendiri pun ikut-ikutan melanggar. Ini entah bagaimana mental masyarakat kita yang sudah terbiasa hidup untuk melanggar aturan, dikarenakan aturannya yang terlalu memberatkan sehingga harus melanggar atau bagaimana. Jangan-jangan, karena sudah sering melanggar aturan Tuhan jadi terkesan biasa melawan aturan manusia.

Jadi, untuk takut dengan Tuhan saja terasa biasa saja apalagi dengan manusia.

Sedikit mengingatkan saya dalam acara di salah satu stasiun televisi, ada seorang yang mengatakan kurang lebih seperti ini, “bagaimana negara mau maju, Tuhan pun tidak ditakuti”.

Sebenarnya, penegakan hukum akhir-akhir ini sedang sakit, akibatnya banyak orang yang memanfaatkan penegakan hukum demi kepentingan diri mereka sendiri. Seperti yang sempat viral mengenai seorang istri yang memarahi suaminya dan berujung sang istri terancam penjara satu tahun. Hal tersebut pada akhirnya menjadi perbincangan banyak khalayak umum, terutama para netizen yang cenderung kontra terhadap apa yang terjadi dalam proses peradilan tersebut. Ini merupakan salah satu kasus yang menjadi bukti bahwa dunia hukum di negeri Pancasila ini sedang sakit.

Jelas saja ini sangat tidak masuk akal, peraturan seakan cuma untuk permainan belaka oleh orang-orang yang berkuasa, yang bisa mereka kendalikan semaunya. Peraturan pada akhirnya hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang beruang dan berkuasa. Pada saat ini hukum bisa diatur semaunya asal ada uangnya, seakan kebebasan bisa dibeli oleh uang.

* Penulis adalah Mahasiswa Semester 4, Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Karimun

Print Friendly, PDF & Email