Ilustrasi: i0.wp.com

Oleh Muhammad Natsir Tahar

Sosiologi tunduk pada psikologi. Psikologi tunduk pada neurologi. Neurologi tunduk pada biologi. Biologi tunduk pada kimia. Kimia tunduk pada fisika. Fisika tunduk pada matematika. Matematika tunduk pada Tuhan.

Sekilas seperti anekdot, tapi dalam perspektif reduksionisme, ini adalah hierarki di mana kebenaran beberapa bidang direduksi menjadi kebenaran yang lain. Yang kemudian menjadi filosofi sains standar atau implisit yang melayang-layang di kepala kita bahkan jika kita tidak pernah secara eksplisit memikirkannya.

Kita bisa mereduksi prilaku massa atau individu dari kewaskitaan sosiologi dan psikologi misalnya, hanya di tingkat biologi dan kimia saja. Bahwa otak kita tidak pernah jauh berbeda dari otak nenek moyang kita katakan 200.000 tahun lalu, tapi dengan godaan-godaan yang tak pernah mereka kira akan sekompleks ini.

Ada pengecap rasa yang selalu sama sejak awal waktu, namun manusia makin fokus pada rasa yang ditimbulkan oleh gula, garam, dan lemak belaka, dan paling terakhir ini: rasa pedas.

Perusahaan di luar sana menghabiskan jutaan dolar hanya untuk menemukan tingkat kerenyahan yang paling memuaskan pada keripik kentang atau level sengatan yang paling menakjubkan pada minuman soda.

Otak dapat mencegah kita untuk terus mengunyah dalam menit tertentu dengan menimbulkan rasa kenyang, namun mereka membuat rekayasa sensasi yang disebut bliss point agar kita terus bergairah dan ketagihan sepenuh waktu.

Dalam kompleksitasnya, masyarakat menjadi dihadapkan pada versi-versi realitas yang direkayasa habis-habisan agar kita betah berada di abad terakhir, meski di ruang terdalam kita ada kerinduan akan kesunyian di awal waktu bersama moyang-moyang kita.

Bagaimana dengan rasa cinta? Banyak senandung pilu dan elegi cinta yang dikumandangkan mulai Dante, Rumi hingga Gibran. Cinta yang menjadi rintihan panjang dan keluhan perasaan setua dunia dapat saja direduksi hanya sebagai sekumpulan reaksi kimia di dalam otak yang dipicu oleh dopamin, testosteron, oxytocin, norepinerhine dan phenylethylamine.

Dalam Atomic Habits, James Clear mengangkat percobaan yang pernah dilakukan tentang pemicu gairah yang ditimbulkan oleh zat kimia tubuh bernama dopamin. Ahli neurologi James Olds dan Peter Milner melakukan eksprimen pada 1954 dengan menanamkan elektroda di otak tikus untuk memblokade pelepasan dopamin.

Hasilnya tikus-tikus yang sangat lasak dan rakus itu tetiba kehabisan semangat hidup, kehilangan selera makan juga seks. Bahkan sekadar minum untuk bertahan hidup. Hal sebaliknya terjadi seketika otak mereka kembali dibanjiri dopamin.

Bagi manusia dopamin memainkan peran paling penting dalam banyak proses neurologi, termasuk motivasi, belajar dan memori, hukuman dan kebencian, serta tindakan-tindakan yang disengaja.

Dopamin akan membanjiri otak kita secara otomatis oleh trigger tertentu. Benak seorang penjudi terlebih dahulu mengalami lonjakan dopamin tepat sebelum memasang taruhan, bukan setelah mereka menang. Seorang yang ketagihan kokain akan kebanjiran dopamin saat melihat bubuk itu, bukan setelah memakainya.

Maka metode reduksionisme bisa saja memintas rekayasa sosiologi dan psikologi untuk mengantisapasi prilaku minor pada individu hanya dengan memblokir pintu masuk dopamin ke dalam sistem syaraf manusia.

Bagaimana dengan gairah-gairah (raving) dalam berbuat nista dan hasrat (desire) untuk mengulang-ulang tabiat jahat yang gagal melewati nasihat keimanan dan khotbah moral? Mengapa tidak disumbat saja selang dopaminnya? ~

Print Friendly, PDF & Email