OPINI | Tahun Berganti; Enuma Elis

Oleh Prof. DR. Yusmar Yusuf, M. Si*

Manusia purba bergurau dalam drama tahun yang baru. Satu di antaranya Babilonia (Bab-ilani atau “gerbang dewa”). Dari titik inilah, menurut keyakinan mereka para dewa turun ke bumi. Ada dua bulan yang selalu dipakai untuk ritual tahun baru dalam tradisi Babilonia; pertama, bulan Tisrit dan kedua, bulan Nisan. Dunia ini diciptakan dalam bulan Tisrit. Kedua bulan ini dikenal sebagai bulan basah. 

Dalam ritual itu, dilibatkan prosesi “libasi” atau ritual penuangan anggur demi penghormatan kepada dewa, yang kemudian menjadi simbolisme hujan. Pada ketika itulah “Pesta Tempat Ibadah” (The Feast of Tabernacles – atau hag hasuk-kot) berlangsung dalam musim hujan yang datang pada tahun itu. Ihwal ini semacam air Ephipany dalam tradisi Kristen awal. Peringatan tahun baru Babilonia disebut dengan akitu.

Perayaan itu, bisa dilaksanakan pada ketika siang atau malam hari. Durasi waktunya sama pada musim semi (the spring equinox) dalam bulan Nisan. Juga bisa dilaksanakan pada malam dan siang hari dalam durasi yang sama di musim gugur (the autumnal equinox) pada bulan Tisrit. Kata Tisrit itu sendiri berakar kata dari kata surru, yang bermakna “mula” atau “awal”, atau “dini”.

Perayaan itu bak parade puisi tentang alam dan dewa-dewa. Setiap orang menjinjit tangkai puisi masing-masing keluar rumah. Dipertemukan dalam penggenapan bersama pada sebuah pesta tempat ibadah (satu lokus bersama). Ideologi dan struktur ritualnya sama dengan zaman Sumeria, dan malah disinyalir bahwa sistem akitu, berhubung kait dengan zaman orang Akkadia yang lebih tua.

Dalam perayaan ini, juga dirungkai epic penciptaan (enuma elis) dalam konfigurasi pertarungan antara Marduk dan gergasi laut Tiamat, lalu dari potongan tubuh (Tiamat) kemudian terciptalah  kosmos, dan manusia diciptakan dari darah demon Kingu, sosok makhluk yang dipercaya oleh Tiamat untuk menyimpan “Tablet Nasib”. Pada bangsa Hattite ada kesamaan corak pertarungan yaitu antara dewa taufan Tesup melawan naga Illuyankas, yang juga diperingati dan direaktualisasi dalam bingkai pesta tahun baru.

Sepanjang sejarah agama-agama dan etnografi, dikenal dua rangkaian upacara periodik dalam satu tahun berjalan; yaitu upacara pengusiran setan, penyakit dan dosa. Kemudian upacara yang dilaksanakan pada jelang dan setelah tahun baru. Ritual pengusiran setan, penyakit dan dosa itu  biasa berlangsung dalam bentuk puasa, penyucian badani, pemurnian, pemadaman api sekaligus penyalaan api, lalu diikuti dengan pengusiran setan dalam moda bebunyian, tangisan, pemukulan daun pintu, diikuti dengan proses pengejaran sekampung dengan bebunyi yang bising dan hullabaloo (tolak bala).

Sir J.G.Frazer menggenapkan dalam bentuk pengusiran hewan atau bahkan pengusiran manusia (jenis Mamurius Veturius). Segala bentuk pengusiran ini, selalu dibancuh dalam satu sesi besar perayaan, bersamaan ketepatan periodis –periodical precision– dengan festival tahun baru.

Repetisi pertarungan Marduk dan Tiamat, disalin dalam modus-modus lokal seperti yang maujud dalam tradisi tahun baru pada orang Hattite, bangsa Mesir, bangsa Ras Shamra. Semua dibungkus dalam scenario dramatic tahun baru. Pertarungan repetitif itu dirindangkan dalam bentuk perkelahian antara dua kelompok, yang bukan saja ingin menggambarkan konflik primordial Marduk versus Tiamat, ihwal ini sekaligus hendak mengulangi, reaktualisasi kosmogoni, perjalanan dari golak (chaos) menuju tata (cosmos). Semua itu dihajatkan untuk mendemonstrasikan keinginan kalenderis ke masa depan. Semua itu, juga berangkat dari sebuah idaman bersama demi “pembebasan masa lampau”, “restorasi kekacauan primordial”, sekaligus “pengulangan aksi kosmogonik”.

Ada masa berkabung; ketika Marduk turun ke neraka dan menjadi “tawanan di gunung”. Pada masa ini diwajibkan berpuasa untuk seluruh manusia. Dirayakan dalam model karnaval besar yang berlangsung terbuka. Pengusiran setan dan penghapusan dosa pribadi dan komunitas tetap berlangsung melalui pengorbanan (hewan, maupun manusia). Lingkaran siklis ritual ini dikhatamkan lewat peristiwa hierogami dewa dengan sosok bernama Sarpanitu, dalam sebuah bilik seorang dewi.

Perjalanan ritual itu adalah drama besar epic penciptaan sejak dari dominasi Tiamat; kemudian masa perendaman banjir bah yang dalam epic Gilgamesh disebut tokoh Ut-Napistim (semacam Nuh Langit atau Heaven Noah); menjelaskan unsur air dan rendam dalam permulaan hidup kembali. Kemudian siklik ini berkisah tentang penciptaan alam raya yang berlangsung “in illo tempore”, sebagai tanda permulaan tahun. Masuk tahap ketiga, di sini partisipasi manusia secara langsung, yang memproyeksi manusia masuk ke dalam waktu mitis, dan membuat dia hidup sezaman dengan kosmogoni.

Pasase ke empat adalah festival nasib; bahwa nasib setiap bulan dan saban hari, ditentukan. Fase terakhir adalah fase hierogami, sebagai reaktualisasi mengenai “kelahiran kembali” (renata); baik dunia maupun manusia. Ihwal pasase ini, juga berlangsung dalam tradisi Yahudi dalam menyambut tahun baru sebagaimana citra “Kultus Jerusalem”.

Kini, era kita, merayakan tahun baru masih tetap  mengandalkan bebunyi dan cahaya yang bersilang-silang, menembak langit atau paling tidak lelangit. Cahaya dan bebunyi itu berlompatan dan saling berkejaran dari kota ke kota-kota dunia. Di sini hukum pasar mengenai pencapaian peradaban, tetap diukur dari seberapa gagah cahaya, seberapa ragam bebunyi yang dihajatkan menjadi penanda tentang garis maya demarkasi waktu; lampau dan akan.

Di sini sejatinya terpola sebuah keinginan menghadirkan circumcision (pengkhitanan) sebagai penanda demarkasi waktu; baligh, dewasa, matang, bestari, jauhari. Inilah nada mitis dari “in illo tempore” itu, sebagaimana diarifi oleh orang Negro Amazulu bahwa pahlawan peradaban (Unkulunkulu) akan berkata gagah dalam gaya vivere pericoloso: “Biarkanlah lelaki dewasa itu dikhitan, supaya mereka tak menjadi kanak-kanak lagi”. Tahun baru, adalah khitan yang menuju penanda. (*)

 

* Penulis adalah Guru Besar Filsafat Ilmu Universitas Riau.

Print Friendly, PDF & Email