Bergantung Hidup di Dapur Arang

Dapur Arang yang terdapat di Dapur 12, Batam. (F: dok)

Masyarakat Batam tempo dulu adalah masyarakat tradisional pasisir. Mata pencaharian umumnya adalah menangkap ikan. Kondisi wilayah kepulauan di antara jejeran pulau – pulau kecil ini mencirikan kegiatan ekonomi maritim tradisional. Berbeda dengan pedalaman Jawa, Sumatera dan Kalimantan, yang berciri agraris atau kontinental.

Selain menangkap ikan, penduduk Batam yang disebut masyarakat Melayu (untuk membedakan dengan orang Tionghoa, masyarakat Melayu terdiri dari beragam etnis seperti Melayu, Bugis, Jawa, Minang dan seterusnya) bekerja dengan berdagang, mencari kayu, membuat tembikar dan sebagainya.

Sementara orang Tionghoa yang waktu itu dikenal dengan sebutan “Cina Kebun”, sebagian besar adalah imigran dari dataran Tiongkok, yang kemudian menetap di pedalaman hutan untuk membuka perkebunan karet, gambir sampai merica.

Banyaknya hutan bakau (mangrove) yang tumbuh subur di sepanjang pesisir Batam menjadi berkah bagi penduduk Batam waktu itu. Selain bekerja sebagai nelayan, sebagian penduduk menebangi hutan bakau dan mengolah kayunya menjadi arang.

Kayu arang olahan penduduk Batam bernilai ekonomis tinggi dan sangat laku di Singapura. Sehingga kayu arang menjadi salah satu komoditas yang laris diperjualbelikan di Singapura. Arang menjadi bahan bakar yang banyak digunakan untuk memasak bagi warga Singapura.

Kebutuhan arang di Singapura umumnya dipasok dari Batam dan Kepulauan Riau. Arang tersebut dibawa oleh toke arang dengan menggunakan kapal kayu. Dalam beberapa hari sekali, toke bolak-balik Batam- Singapura.

Pergi ke Singapura membawa arang dari kayu bakau, pulangnya toke tersebut membawa berbagai sembako yang dibutuhkan warga Batam. Transaksi masih dilakukan dengan cara tukar barang langsung (barter).

Penjualan kayu arang ini sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Pengiriman arang besar-besaran ke Singapura dilakukan pada era tahun 1960-an. Saat itu, penduduk Singapura sudah mulai ramai sehingga kebutuhan arang sangat besar.

Arang diproduksi di beberapa lokasi pesisir di Batam. Dapur arang ini biasanya milik tauke. Kadang satu tauke arang memiliki beberapa dapur arang yang mempekerjakan beberapa orang. Ada juga tauke arang yang mengumpulkan arang-arang dari penduduk. Setelah cukup barulah dibawa ke Singapura.

Di antara lokasi dapur arang yang terkenal dan masih ditemukan sisa-sisa peninggalan sampai saat ini adalah di Dapur 12, Sagulung. Di daerah ini ada empat tungku atau dapur arang berukuran besar. Tingginya mencapai lima meter lebih dengan luas lebih dari 25 meter persegi. Dua dapur dibangun oleh ayah Samyong, tauke arang.

Ayang Samyong sendiri merupakan warga Singapura yang hijrah ke Batam saat Samyong masih kecil. Di Batam ia mendirikan usaha dapur arang. Sementara dua dapur lagi sudah ada jauh sebelumnya.

Sedangkan menurut cerita warga yang berkembang saat ini, dulunya di Dapur 12, sesuai dengan namanya, ada sebanyak 12 dapur arang yang berukuran besar. Satu persatu dapur arang tersebut rusak dimakan usia dan hilang. Kini yang tersisa tinggal sisa-sisa bangunan dapur arang yang juga sudah rusak dimakan usia.

Warga Batam yang pernah menjadi tauke arang adalah (alm) Tony A Samyong (Sam Hiong), seorang penjuang pada zaman konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia. Dapur arang di Dapur 12 tersebut adalah milik ayah Samyong.

Dapur tersebut sudah dibagun ayah Samyong sejak Samyong masih kecil. Samyong sendiri pada tahun 1947, saat itu berusia sekitar 12 tahun, sudah terjun membuat arang membantu bapaknya.

Selain di Dapur 12, keluarga Samyong juga memiliki dapur arang di Seijodoh. Waktu itu, dapur arang di Seijodoh merupakan satu-satunya. Sementara warga Batam lain waktu itu banyak bekerja sebagai nelayan yang menangkap ikan dengan kelong. Ada juga yang bekerja sebagai petani kebun.

Dapur arang ini ditemui di hampir semua pesisir Batam dan di muara sungai, seperti di Seijodoh, Duriangkang, Dapur 12, Sungai Buluh dan tempat lainnya.

Tersebarnya hutan bakau di seluruh pesisir menjadikan bahan baku arang yaitu bakau tidak sulit didapatkan pekerja. Hal ini menjadikan mencari kayu bakau dan mengolahnya menjadi bakau adalah pekerjaan andalan bagi penduduk Batam, ketimbang berkebun.

Tujuan pendirian dapur arang di muara sungai ini untuk memudahkan mengangkut dan mengirimkan arang dengan perahu ke Singapura. ~ (Sumber: Buku Tionghoa Batam Dulu dan Kini)

 

Print Friendly, PDF & Email