OPINI | Kedudukan Anak Menurut Pandangan Al-Qur’an

Ferri Irawan

Anak sebagai kado terindah yang diberikan kepada orang tua sekaligus amanah yang Allah titipkan kepada setiap orang tua. Oleh karena itu sesungguhnya anak-anak bukanlah milik kita, mereka adalah titipan dari Allah kepada kita.

Untuk itu sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang tua untuk mendidik anak sesuai dengan yang telah Allah perintahkan. Apabila anak jauh dari ajaran islam dan orang tua tidak mengajarkannya maka kesalahan itu ada di orang tua.

Anak adalah investasi kedua orang tua dimana ketika anak itu tumbuh dewasa dan kedua orang tua sudah lanjut akan usianya. Maka anak adalah harapan di masa depan merekalah kelak yang akan menjadi pengaman dan pelopor masa depan agama dan bangsa. Jadi wajib bagi orang tua mendidik mereka untuk menjadi generasi tangguh di masa depan. Lebih jauh, Allah memerintahkan kita sebagai orang tua untuk menjauhkan mereka dari api neraka kelak.

Seorang anak juga bisa menjadi penyelamat orang tuanya nanti di hari akhirat bahkan ada anak yang akan memasangkan mahkota di kepala kedua orang tuanya jika di dunia ini mereka mampu menghafal Al-Qur’an. Akan tetapi, anak juga bisa menjadi penghalang orang tua untuk masuk surga jika anaknya mengerjakan kemaksiatan di dunia.

Oleh sebab itu, Islam memiliki pandangan berbeda terhadap anak jika dilihat dari perspektif Al-Qur’an, dan Al-Qur’an menempatkan beberapa kedudukan anak didalam kehidupan ini, yakni:

Pertama : Anak sebagai penyejuk hati
Sebagai penyejuk hati kedua orang tuanya, inilah kedudukan anak yang terbaik yakni apabila anak dapat menyenangkan hati dan menyejukan mata kedua orang tuanya. Mereka adalah anak-anak yang apabila ditunjukkan untuk beribadah, seperti shalat, mereka segera melaksanakannya dengan suka cita. Apabila diperintahkan belajar, mereka segera menaatinya. Mereka juga anak-anak yang baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.

Kedua : Anak sebagai perhiasan dunia
Anak adalah perhiasan bagi orang tua artinya bahwa anak bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi orangtuanya. Mereka merasa sangat senang dan bangga dengan berbagai prestasi yang diperoleh oleh anak-anaknya, sehingga dia pun akan terbawa baik namanya di depan masyarakat. Ini semua merupakan perhiasan dunia bagi orang tua terhadap prestasi-prestasi yang dicapai oleh anaknya.

Ketiga : Anak sebagai musuh
Anak bisa saja menjadi musuh bagi orang tuanya, ketika orang tua salah dalam mendidik anaknya, atau bisa juga karena kesibukan mereka yang kurang memperhatikan anak-anaknya, atau bisa juga karena salah dalam mengontrol pendidikan mereka, atau juga karena salah dalam memilih tempat mereka belajar.

Keempat : Anak sebagai fitnah
Anak bukan saja sebagai perhiasan hidup, akan tetapi seorang anak bisa juga menjadi fitnah bagi kedua orang tuanya, fitnah itu adalah ujian, baik berupa ujian kesabaran, ujian yang mendekatkan diri atau menjauhkan diri dengan Allah Ta’ala, ujian baik atau buruknya seseorang di hadapan masyarakat. Seorang anak menjadi ujian kesabaran bagi orang tua, setiap anak memiliki sikap yang berbeda dalam sebuah keluarga, sehingga dengan perbedaan sikap tersebut membutuhkan kesabaran yang tinggi bagi orang tua. Begitu juga dengan sikap seorang anak yang ikut dalam kenakalan remaja, tentu ini menjadi ujian kesabaran bagi orang tua.

Banyak contoh dalam kehidupan anak yang menjadi musuh ini, seperti ada anak yang menggugat orang tuanya karena masalah harta warisan, atau ada anak yang rela memilih kekasihnya daripada akidah yang dianutnya sendiri. Dan contoh-contoh buruk lainnya, naudzubilah min dzalik.
Dengan melihat kedudukan seorang anak di dalam Al-Qur’an di atas, yang menjadikan anak sebagai penyejuk hati, sebagai fitnah, sebagai perhiasan dunia atau sebagai musuh adalah tergantung dari orang tuanya. Karena itu, Islam mengajarkan untuk memiliki anak yang baik harus dibentuk dari jauh-jauh hari.

Salah satunya, dengan cara memilih pasangan pendamping yang baik dan shalih, membentuk karakter anak yang baik harus dengan keteladanan, sering berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak, serta dengan melakukan pembiasaan yang baik sesuai dengan yang dianjurkan oleh syariat. ***

 

Oleh Ferri Irawan (Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam Prodi PAI Universitas Muhammadiyah Malang)

Print Friendly, PDF & Email