Akhirnya Jemaah Indonesia Bisa Umroh, Ini Syarat Lengkapnya

Ilustrasi. (F:net)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Arab Saudi resmi menandatangani nota diplomatik 8 Oktober lalu.

Dalam nota diplomatik itu disebutkan bahwa jamaah asal Indonesia bisa kembali melakukan ibadah umrah dalam waktu dekat.

“(Ini) menjelaskan informasi para pengunjung berkaitan dengan vaksin dan akan memfasilitasi proses masuknya jamaah,” kata Menlu RI Retno dalam keterangannya, akhir pekan kemarin.

Meski begitu, tidak semua WNI bisa serta merta masuk ke Negara Raja Salman itu untuk beribadah. Menurut Konjen RI di Jeddah, Eko Hartono, ada beberapa kategori yang diizinkan untuk masuk tanpa karantina. Kategorisasi ini terkait dengan vaksin yang digunakan.

Pertama, bagi warga yang telah menerima vaksin penuh merek AstraZeneca, Moderna, Pfizer, dan Johnson & Johnson, mereka diizinkan untuk langsung masuk ke Saudi tanpa karantina. Keempat vaksin ini merupakan vaksin yang disetujui oleh pemerintah Saudi

Untuk penerima vaksin Sinovac dan Sinopharm, diharuskan untuk mendapatkan vaksin booster dengan empat merek yang disetujui itu. Apabila tidak, maka diharuskan untuk menjalani karantina selama lima hari setelah kedatangan.

“Sampai saat ini, Saudi mengharuskan vaksin Sinovac perlu¬†booster. Apabila tidak (memenuhi syarat) ya nanti harus karantina lima hari,” ujarnya seperti dilansir CNBC Indonesia, Senin (11/10/2021).

Sementara itu, untuk keberangkatan, syarat yang masih perlu dilakukan oleh setiap jamaah adalah melakukan tes PCR. Tes ini dilakukan maksimal 3×24 jam sebelum keberangkatan.

“Untuk PCR dilakukan 72 jam sebelum berangkat,” tegasnya lagi.

Lebih lanjut, pihak Kementerian Kesehatan dan perwakilan Indonesia di Arab Saudi masih melakukan beberapa penyesuaian terhadap aplikasi PeduliLindungi yang mencantumkan sertifikat vaksin. Pasalnya aplikasi itu belum bisa terintegrasi dengan aplikasi Saudi untuk COVID-19, Tawakalna dan menyulitkan proses verifikasi sertifikat.

“Lah ini yang lagi dibahas dengan Saudi dan Kementerian Kesehatan supaya aplikasi PeduliLindungi bisa link dengan app Tawakalna,” pungkasnya lagi. (mk/cnbc)

Print Friendly, PDF & Email