Sarana dan Prasarana Pendidikan di Kampung Tua Segeram Perlu Diperhatikan

Berfoto di depan SD Negeri 010 Sedanau. (F:ist)

NATUNA (marwahkepri.com) – Konsep merdeka dalam pendidikan sebenarnya sudah digagas oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu menekankan pendidikan harus memerdekakan anak didik, memerdekakan pikiran dan batinnya.

Oleh karenanya, kualitas guru serta sarana dan prasarana pendidikan harus mendukung agar terciptanya bebas berkreasi, kritis, berani mengemukakan pendapat dan tidak memiliki mental takut salah.

Namun lain halnya dengan nasib Sekolah Dasar (SD) Negeri 010 Sedanau, bertempat di Kampung Segeram, Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna.

Sesuai dari hasil pantauan media ini, kondisi jalan menuju Segeram yang dijuluki kampung tua itu sangatlah memperhatikan.

Akses jalan begitu penuh potensi rawan seakan kurang mendapat sentuhan dari pemerintah. Kenapa tidak? Segeram merupakan kampung tua, akan tetapi segala bentuk dalam pembangunan seolah tidak terjamah oleh pemangku kebijakan.

Zufrianto (58), adalah Kepala SD 010 Sedanau, sudah mengabdi di sekolah tersebut selama 4 tahun, akan tetapi jaringan komunikasi dan akses jalan menuju ke kampung itu sangat menyedihkan.

“Guru pengajar kami berjumlah 6 orang, 3 pegawai negeri dan 3 honorer, itu termasuk saya dan saya pun mengajar, dengan jumlah murid dari kelas 1 sampai kelas 6 semuanya 14 orang,” kata Zufrianto saat dijumpai di kediamannya, Minggu (3/10/2021)

Gapura penyambut di Kampung Segeram. (F:ist)

Kendatipun demikian, pada masa pandemi, minat siswa dalam menuntut ilmu sedikitpun tak berkurang, meski tidak sama halnya dengan sekolah-sekolah lain yang ada di Natuna. Karena siswa SD 010 Sedanau ini tak pernah mengenal apa itu Belajar Dari Rumah (BDR) secara daring, hal ini karena keterbatasannya jaringan komunikasi.

“Sesuai hasil rapat komite sekolah, cara belajar selama BDR, tetap dilakukan secara tatap muka namun tidak seperti biasa, murid tidak masuk sekolah. Namun para guru ada yang mendatangi ke rumah-rumah siswa dan ada pula murid yang datang ke sekolah hanya untuk mengambil tugasnya, ini merupakan upaya agar siswa tidak ketinggalan mata pelajaran,” terangnya sambil menyeruput seduhan kopi.

Terkait minimnya jumlah siswa di SD 010 ini, karena adanya sejumlah penduduk setempat berpindah domisili ke wilayah lain untuk melanjutkan sekolah lebih tinggi. Karena tak mampu dengan kondisi jalan yang memprihatinkan serta miskinnya jaringan komunikasi.

Sekolah yang didirikan pada tahun 2002 silam hingga saat ini belum memiliki ruang majelis guru, namun sejauh ini sudah dua kali pihaknya mengusulkan ke dinas pendidikan.

“Ya bang, kami memang belum memiliki ruang majelis guru, yang ada saat ini adalah ruang perpustakaan, nah kita manfaatkan ruang ini sebagai majelis guru sekaligus perpustakaan. Tapi bang, pihak dari Dinas Pendidikan sudah sering kesini dan melihat kondisi ini, sepertinya dapat tanggapan baik, hanya saja kapan dibangun belum tau. Beberapa waktu lalu sudah ada tim peninjau datang,” ujar pria asal Pulau Tiga itu.

Dengan demikian, melalui media ini sebagai penyambung lidah, Zufrianto menitip harapan kepada Pemerintah Kabupaten Natuna (Pemkab), agar dapat secepatnya memeberi perhatian antara lain, jaringan internet, akses jalan menuju Kampung Segeram, dan perumahan guru. Karena rumah guru yang ada saat ini hanya dua.

“Sebab, guru pengajar harus tinggal di kampung ini tidak akan sanggup pulang balek,” pintanya.

Akses jalan menuju Kampung Segeram. (F:ist)

Di tempat terpisah, Wan Neli Erni (39) merupakan salah seorang wali murid, sempat bengong ketika ditanyakan masalah BDR, karena selama ini belum pernah diterapkan kepada anaknya. Oleh karenanya, kepada pemerintah Erni meminta segera pemerintah hadirkan jaringan di kampungnya ini. Sebab kata Erni, sinyal yang ada hanyalah pembiasan dari wilayah Desa Kelarik, yang merupakan masih satu kecamatan.

“Saat ini sinyal sangat mendukung dalam dunia pendidikan, sehingga kami merasa banyak sekali ketinggalan informasi-informasi,” ujarnya kepada sejumlah awak media.

Ucapan senada juga dikatakan Erni, akses jalan juga sangat perlu diperhatikan, karena segala keperluan apapun harus melintasi jalan penuh terjal itu.

“Mohon kepada pemerintah, ini diperhatikan, enggan sekali jika ada keperluan lain dan harus melintasi jalan licin, bahkan banjir jika turun hujan. Padahal jalan dari Desa Kelarik menuju kampung tua ini hanya jarak 10 kilometer. Karena jalannya rusak parah, sampai-sampai memakan waktu lebih kurang 1 jam jika kita mau ke Kelarik sana, info pembangunan jalan sudah ada terus, tapi saat ini belum juga dikerjakan, semoga bupati baru ini dapatlah merubah kampung tua ini terlihat maju demi masyarakat pak,” pintanya.(mk/zani)

Print Friendly, PDF & Email