Usaha Pengupasan Rajungan Terkendala Pengiriman

USAHA pengupasan rajungan di Sebala, Desa Batu Gajah, Bunguran Timur.(foto:nang)

MARWAHKEPRI.COM, NATUNA – Usaha pengupasan daging rajungan di Kabupaten Natuna mengalami kendala pengiriman ke luar daerah. Pasalnya, transportasi udara tidak lancar seperti biasanya.

Pemilik usaha pengolahan rajungan di Batu Gajah, Kecamatan Bunguran Timur, Jumardi mengatakan, kondisi ini sudah berlangsung semenjak beberapa bulan terakhir.

Akibat ketidak lancaran pesawat membuat
pengiriman tersendat. Padahal biasanya dalam sepekan bisa dua sampai tiga kali pengiriman ke Batam.

“Karena pengiriman tak lancar, jadinya barang menumpuk. Rencananya hari sabtu mau kirim pakai pesawat hercules, habis itu kita tak tau lagi mau kirim pakai apa,” ujar Jumardi, Rabu 4 Agustus 2021.

Pria yang membuka usaha di dusun Sebala itu mengatakan, daging rajungan harus dikirim dalam kondisi segar sesuai dengan permintaan agen penampung.

Alternatif lainnya pengiriman bisa dilakukan melalui kapal. Akan tetapi sangat berisiko, apabila kelamaan dalam perjalanan dapat menyebabkan daging rajungan menjadi basi.

“Abang kan tau sendiri, kalau barang sudah basi pasti rijek, perusahaan tidak akan mau terima. Kalau terjadi seperti itu kita yang rugi, penampung tidak mau tau,” keluhnya.

Dalam sehari ia dapat menampung 40-50 kilo gram rajungan segar dari nelayan setempat. Kemudian diproses untuk diambil dagingnya.

“Kalau seperti ini terus menerus, usaha saya bisa tutup karena modal tidak berputar. Kasihan juga ibu-ibu yang bekerja disini, tidak ada tambahan penghasilan lagi,” ujar Jum-sapaan akrabnya.

PROSES pengiriman barang melalui kapal.(foto:ist)

Kondisi serupa juga dialami oleh Izhar, pengusaha rajungan asal Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat. Ia terpaksa memutar otak agar usahanya tetap jalan.

Ketidak pastian penerbangan ke Natuna tidak hanya berdampak pada bisnis rajungan. Akan tetapi, juga berimbas pada semua usaha hasil laut.

“Sekarang ini sakit, barang yang dikirim sering rijek. Bahkan semua hasil laut fresh terkendala kirim ke Batam, khususnya ikan”, sebut Izhar.

Pengiriman barang terpaksa dilakukan melalui transportasi laut, meskipun berisiko tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut, ia membatasi pengiriman, hanya dua minggu sekali.

Izhar mengatakan, saat ini harga hasil laut rata-rata masih stabil. Terpenting barang dari Natuna bisa keluar, jangan sampai tidak ada transportasi.(mk/nang)

Print Friendly, PDF & Email