Bisikan Hantu Daendels

Herman Willem Daendels: historiek.net

Batam itu kota maskulin. Membesar dengan gerigi-gerigi alat berat, tebas tebang, tembok-tembok, logam, pasar dan api yang menghanguskan. Batam adalah kota yang jantan, tanah-tanahnya dikawal penuh gertak, ditelingkahi muslihat sekaligus anak emas petinggi ibukota. Batam adalah kota yang gahar, tempat beradu para pendekar dan penumpas lanun. Batam adalah wilayah pertahanan perang dan basis laskar konfrontasi.

Sebelum itu, Batam dilewatkan Sang Nila Utama (penemu dan penama Singapura), dijentik oleh Raffles dan diacuhkan Daendels. Herman W Daendels Sang Belanda bermental kontinental, Batam dan Singapura sesama emas, tapi siapa yang menyepuh emas, dia adalah Thomas Stamford Rafless, Sang Gubernur Jenderal dari Britania Raya, negara maritim utama dunia.

Mirip Sang Nila Utama, Letnan Jenderal Soeharto pun melihat Singapura dari dataran tinggi. Di Tanjung Pinggir era konfrontasi, teropong keramatnya menumbuk gedung-gedung pencakar langit Singapura.

Sejak itu Batam diemaskan karena ketahuan bertetangga dekat dengan kota penting dunia. Jenderal – jenderal turun gunung. Sayangnya, DNA Daendels tak hilang-hilang, yang dilihat dari Batam adalah daratannya, yang tidak lebih dari 1 % dari seluruh laut Kepulauan Riau.

Belanda selalu berpikir agraris, tidak memandang bagaimana besar nilai strategis maritim Singapura kala itu. Lalu membiarkan Raffles memanipulasi Sultan Singapura Tengku Husein, untuk membangun pelabuhan besar.

Apa boleh buat, lewat Traktat London 1824, Singapura ditukar dengan Bengkulu, yang kebetulan cocok dengan selera Daendels. Belanda tak juga membuka mata ketika Pulau Sambu (salah satu pulau yang terdekat dengan Singapura) dibangun menjadi pangkalan minyak mereka, Royal Dutch Shell pada 1920-an. Sambu tetaplah semata oil base yang kemudian berganti jadi Pertamina Pulau Sambu.

Dengan pendekatan militer dan sedikit copy paste dari kolonial, Batam kemudian melewati era babat alas. Ada empat fungsi utama Otorita Batam (OB) yang lahir dari kemunduran Pertamina, yakni industri, perdagangan, pariwisata dan alih kapal (transshipment). Industri dan perdagangan menjadi titik berat OB, sedangkan pariwisata dan terutama alih kapal agak dicuaikan.

Jika ingin serupa Singapura mestinya Batam di hari – hari awal sudah memikirkan bagaimana membangun pelabuhan berkelas internasional yang sama levelnya. Sampai hari ini tidak ada pelabuhan peti kemas bonafide milik Batam. Padahal bagaimana Singapura bisa direbut Raffles lalu mendunia, adalah berkat pelabuhannya.

Bisikan hantu Daendels demikian kuat mempengaruhi cara berpikir para teknokrat pembangun Batam. Maka yang terjadi adalah politik tanah dengan cara memunggungi lautan emas. Namanya saja Batam sebagai etalase utama dan gerbang Indonesia, tapi peran yang dimainkan hanyalah sebentang halaman belakang untuk menampung muntahan Singapura.

Industrialisasi dan politik tanah yang dikombinasikan dengan mindset kontinental sebagai penyediaan lapangan industri, melahirkan Teori Balon Habibie. Inilah dasar utama upaya penyambungan gugus kepulauan Barelang dengan enam jembatan yang kemudian vakum. Batam memilih mundur ke selatan untuk memperluas halaman belakang.

Bila saja pembangunan jembatan Barelang dialihkan untuk mendirikan pelabuhan – pelabuhan kelas dunia yang langsung berhadapan dengan peradaban ekonomi internasional, maka Batam tak perlu ditelikung oleh muridnya Port of Shenzhen, China dan tetangga dekat Johor Port Pasir Gudang, Malaysia.

Tidak cukup ruang untuk menjelaskan sejarah industrialisasi Batam hingga kini kita sampai kepada fakta kekinian, tentang Batam yang sedang stagflasi. Seperti tersesat di padang pasir, Batam sedang mengejar oase. ~MN Tahar

 

Print Friendly, PDF & Email