Apakah Berbohong Demi Kebaikan Dibenarkan ?

Ilustrasi orangtua berbohong pada anaknya (net)

Rasanya selama kita hidup di bumi belum pernah satu kali pun kita bisa terlepas dari ‘dosa’ yang satu ini yaitu berbohong.

Bayangkan, sedari kita masih kecil sudah dibiasakan hidup dalam kebohongan. Mau bermain di luar rumah dibilang jangan sampai malam karena nanti takut diculik kolong wewe atau ketika kita mau minta dibelikan mainan dibilang tidak ada uang.
Alasan-alasan ini dikatakan oleh orang tua kita yang tentu saja, pada saat itu, kita begitu saja percaya.
Setelah kita beranjak dewasa, barulah kita mengerti bahwa semua itu kebohongan belaka.
Kita bisa pergi keluar bahkan sampai pagi baru pulang kembali ke rumah, tidak ada makhluk yang bernama kolong wewe yang menculik atau kita bisa disekolahkan oleh orang tua sampai saat ini tentu saja membayar biaya sekolahnya memakai uang bukan daun.
Lalu kalau ditanya kenapa harus berbohong, jawabannya bisa dipastikan,”Ya, itu kan demi kebaikan kamu sendiri, biar kamu gak pulang malam dan gak boros beli mainan terus, padahal mainan yang lama masih menumpuk jarang dimainkan.”
Dengan begitu, kita pasti berpikir bahwa ternyata berbohong itu diperbolehkan untuk kebaikan atau dalam bahasa Inggrisnya white lie (bohong putih).
Masalahnya demi kebaikan siapa berbohong itu dilakukan? Dan kenapa harus berbohong kalau demi kebaikan?
Biasanya, orang melakukan white lie itu karena tidak mau ribet memikirkan alasan lain yang bisa saja akan menimbulkan berbagai macam pertanyaan yang tidak berkesudahan.
Dengan berbohong bisa lebih simpel, efisien dan tidak perlu banyak memerlukan effort lebih.
Namun pernahkah kita berpikir bahwa dengan mengatakan kebenaran terhadap seseorang kita sesungguhnya menempatkan orang itu sebagai manusia yang layak dihormati dan dihargai.
Bukankah kita juga tidak suka dibohongi, apa pun itu alasannya.
Kita juga sering beralasan bahwa kebenaran itu bisa menyakitkan, jadi lebih baik berbohong saja.
Anggapan itu bisa menjadikan kita seperti Tuhan bagi orang lain, bisa mengetahui apa yang akan mereka rasakan dan bahkan juga bisa tahu apa yang nanti akan mereka alami kalau sudah mengetahui kebenarannya.
Ada cara yang lebih baik kalau kita merasa bahwa belum saatnya kebenaran diungkapkan yaitu berkata secara bijaksana.
Kita tahu perkataan apa yang tepat diucapkan pada saat yang tepat tanpa perlu ada kebohongan.
Meski mungkin kesannya menjadi sedikit bertele-tele dan dinilai kurang cepat tapi masih lebih baik daripada harus berbohong bukan?
Karena biasanya justru yang serba instant dan cepat, kebaikan yang didapat hanya sesaat saja bahkan cenderung semu tapi kalau mau susah sejenak demi kebenaran terungkap, mungkin sementara akan bersedih dan susah hati tapi kebaikan yang didapat akan abadi. (mk/kump)
Print Friendly, PDF & Email