Bos Telegram Sebut Ada Ancaman Virus dari Isreal di Iphone dan Android

CEO Telegram, Pavel Durov (net)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Pavel Durov, pendiri Telegram angkat bicara soal adanya ancaman virus dari Israel pada 50 ribu nomor ponsel di dunia. Dia menuturkan sistem yang dilanggar sudah jauh lebih dalam dan tidak ada cara untuk melindunginya.

“Telepon dari 50 ribu orang termasuk aktivis dan jurnalis telah menjadi target oleh alat pengawasan yang digunakan oleh sejumlah pemerintahan. Alat ini bisa meretas ponsel iOS [iPhone] dan Android apapun, dan tidak ada cara untuk melindunginya. Ini tidak penting aplikasi mana yang Anda pakai karena sistem telah dilanggar dalam level yang lebih dalam,”kata Pavel dalam kanal Telegramnya dikutip Kamis (22/7/2021).

Pavel juga mengutip pernyataan seorang mantan pegawai CIA, Edward Snowden tahun 2013. Saat itu, Snowden mengungkapkan jika Apple dan Google adalah bagian dari program pengawasan global antara lain menerapkan backdoors pada sistem operasi selulernya.

“Tidak mengherankan ini yang terjadi: sebuah perusahaan Israel bernama NSO Group menjual akses software mata-mata (spyware) yang memungkinkan pihak ketiga meretas puluhan ribu telepon,” jelasnya.

Pavel sendiri mengklaim sejak 2018 salah satu nomornya jadi target potensial tools tersebut, walaupun fakta ini dibantah oleh NSO Group. Dia menegaskan tidak khawatir, sebab tinggal di Rusia dari 2011 lalu telah beransumsi semua ponselnya diretas.

Namun menurutnya jika ada yang meretas data pribadinya, maka akan kecewa. Karena pelaku tidak akan menemukan informasi penting di sana.

“Siapapun yang mendapatkan akses data pribadi saya akan sangat kecewa, harus melewati ribuan desain konsep untuk fitur Telegram dan jutaan pesan yang terkait dengan proses pengembangan produk. Tidak akan menemukan informasi penting,” ungkap Pavel.

Di luar itu semua, ada orang yang jauh lebih menonjol dibanding dirinya misalnya kepala negara. Maka itu Pavel mendorong pemerintah dunia melakukan tindakan pada monopoli yang dilakukan Apple dan Google, serta meminta keduanya membuka ekosistem tertutup keduanya dan memungkinkan lebih banyak kompetisi.

“Sejauh ini meskipun monopoli pasar meningkatkan biaya dan melanggar privasi serta kebebasan berbicara miliaran orang, pejabat pemerintah sangat lambat untuk bertindak. Saya harap berita mengenai mereka jadi target oleh alat pengawasan bisa mendorong para politis untuk mengubah pikirannya,” tambah Pavel.

Diberitakan sebelumnya dari 50 ribu nomor telepon yang jadi target sekitar 15 ribu nya berasal dari Meksiko. Ini terdiri dari politisi, perwakilan serikat, pekerja, jurnalis dan kritikus pemerintah.

Sementara itu laporan terpisah menyebutkan 300 nomor berasal dari India, termasuk nomor menteri, politisi oposisi, jurnalis, ilmuwan dan aktivis hak asasi. (mk/cnbc)

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email