Pelaku Usaha Keluhkan Batasan Jam Malam, Santi : Jualan Hanya Bisa Balik Modal

MARWAHKEPRI.COM, NATUNA – Terkait rencana rapat evaluasi pembatasan jam operasional dan pemberlakuan jam malam memang sangat diharapkan oleh para pedagang, terutama pelaku usaha tempat makan dan jajanan kuliner yang beroperasi pada malam hari.

Dari awal sejak pemberlakuannya, mereka para pelaku usaha ini sudah mengeluh karena sangat berimbas pada pendapatan mereka yang turun secara drastis.

Saat dimintai tanggapan, Susanti (39) salah seorang pedagang kuliner di malam hari mangaku tidak seperti biasa. Sebelumnya, hasil setiap berjualan lebih dari modal.

“Saya ini jualan pada malam hari aja, sekarang hasil jualan pun hanya balek modal aja,” keluh perempuan yang akrab disapa Santi saat ditanya awak media Selasa, (20/7/2021) 

Ditempat terpisah Camat Bunguran Timur, Hamid Hasnan saat dimintai keterangan, ia membenarkan hal itu.

Sudah sangat tepat kalau satgas penanganan COVID-19 di kabupaten berencana untuk mengembalikan jam operasional seperti semula yaitu sampai 22.30, dan pemberlakuan jam malam pun dicabut.

Namun sebaliknya kata Hasnan, jika sudah ditiadakan batasan jam malam, pelaku usaha harus benar-benar taat prokes.

“Meja dikurangi separuh, kalau biasanya dipasang 10 meja, sekarang cukup 5 meja saja,kursi yang biasanya 3 atau 4 tiap meja sekarang dikurangi tinggal 2 meja saja, meja lesehan untuk tamu keluarga lebih dari 4 orang pun harus ditiadakan,” pinta Hasnan. 

Hasnan mengaku, akan segera diterapkan 1 Meja 2 Kursi (1M2K). Dengan demikian, jarak pengunjung dapat diatur, karena pelaku usaha harus ikuti kebijakan tersebut, demi kebaikan bersama.

“Kalau ini betul-betul mau dipatuhi oleh pelaku usaha saya rasa sudah clear, ini sudah win-win solution, kurang apa lagi pemerintah, sudah sangat bijak. Semua masukan sudah dipertimbangkan,” cetusnya.

Dirinya meminta kepada pelaku usaha terutama beroperasi di wilayah Kecamatan Bunguran Timur, untuk tetap patuhi protokol kesehatan. (mk/zani)

Print Friendly, PDF & Email