Tuding Agen Hamas, Puluhan Mahasiswa Palestina Ditahan Israel

ISRAEL (marwahkepri.com) – Militer Israel menangkap puluhan mahasiswa Palestina di wilayah Tepi Barat. Militer Israel menyebut para mahasiswa itu ditangkap atas tuduhan menjadi ‘agen-agen teror’ dari kelompok Hamas, yang menguasai wilayah Gaza.

Seperti kutip dari detik.com yang dilansir AFP, Jumat (16/7/2021), sejumlah sumber Palestina menyebut puluhan mahasiswa dari Universitas Birzeit ditangkap saat kembali dari desa Turmus Ayya dengan bus.

Diketahui bahwa militer Israel pada awal bulan ini, menghancurkan rumah keluarga seorang warga Palestina-Amerika di desa Turmus Ayya, yang sedang menunggu persidangan kasus penembakan mahasiswa Yahudi di Tepi Barat. Penembakan terjadi awal tahun ini.

“Beberapa agen teror yang ditangkap terlibat langsung dalam aktivitas teror, termasuk transfer dana, penghasutan dan mengatur aktivitas Hamas (di Tepi Barat),” demikian pernyataan militer Israel.

Pernyataan yang dirilis Rabu pada (14/7) tengah malam waktu setempat, mengumumkan bahwa ‘puluhan agen-agen teror’ dari ‘sel mahasiswa’ di Universitas Birzeit telah ditahan dalam operasi gabungan yang melibatkan militer, kepolisian dan dinas keamanan dalam negeri Shin Bet.

Juru bicara militer Israel mengatakan pada Kamis (15/7) waktu setempat, bahwa Shin Bet telah mengambil alih penyelidikan.

Secara terpisah, kelompok Klub Tahanan Palestina melaporkan bahwa jumlah mahasiswa yang ditangkap pada Rabu (14/7) waktu setempat mencapai 45 orang. Dari jumlah itu, 12 orang di antaranya telah dibebaskan dan 33 orang lainnya yang masih ditahan semuanya berjenis kelamin laki-laki.

Kelompok Klub Tahanan Palestina menuduh Israel telah melakukan ‘penangkapan sistematis’ terhadap mahasiswa-mahasiswa Palestina yang ‘menghambat pendidikan ratusan mahasiswa’.

Pihak Universitas Birzeit dalam pernyataannya menyuarakan kekhawatiran atas nasib para mahasiswanya yang ditangkap. Pihak universitas juga mengecam penangkapan itu sebagai pelanggaran hukum internasional.

“Universitas menyerukan komunitas internasional untuk segera melakukan intervensi untuk mengamankan pembebasan mereka,” kata Universitas Birzeit dalam pernyataannya. (mk/dtc)
Print Friendly, PDF & Email