Reinkarnasi Kaisar Nero

Kaisar Nero: 2.bp.blogspot.com

Pada tahun 46 Masehi api membakar kota Roma menjadi puing-puing. Meskipun Nero sendiri sebagai Kaisar Roma menitahkan api dipadamkan, tapi kecenderungan artistiknya segera ketahuan lalu konon ia bernyanyi dan menari saat menyaksikan Roma membara.

Rumor berkembang kalau api itu sebenarnya ia yang menyalakan untuk membuat jalan bagi istana mewah yang disebut Gedung Emas, yang dibangun saat seharusnya kepentingan pemukiman publik lebih diutamakan. Api itu juga dijadikan alasan pembantaian pertama terhadap sebuah komunitas agama yang tidak ia senangi.

Selain Caligula, Nero adalah kaisar paling buruk yang pernah ada dalam kekaisaran Romawi dahulu kala. Terlahir sebagai Lucius Domitius Ahenobarbus, ibunya Agripina muda mengubah namanya menjadi Nero Claudius Caesar saat Agripina menikahi pamannya, Kaisar Roma Claudius.

Tatkala Claudius mati – mungkin karena diracun Agripina – Nero yang baru berusia 17 tahun diangkat sebagai kaisar oleh senat dan pegawai Praetorian. Tetapi Agripina tetap memegang kendali sebagai wali. Pada 59 Masehi, Agripina pula harus tamat di tangan Nero, anak kandungnya sendiri, setelah beberapa kali gagal dibunuh.

****

Pada medio 1980, pembangunan pulau Batam mulai menggeliat. Cetak biru tata kota pada fase awal amat mengacu pada masterplan Batam sebagai Kawasan Berikat, namun seperti menapikan dimensi sosio-kultural yang ada. Pihak berkuasa ingin lekas – lekas melakukan rombakan pada titik strategis seperti Jodoh serta membidani Nagoya untuk jadi tempat membeli belah yang aduhai.

Ruang – ruang kumuh segera dimodernisasi namun upaya ini ditegah oleh masyarakat tempatan yang belum mau diusik. Pembangunan yang dipercepat menyisakan luka sejarah. Sebuah siasat tengah direncanakan untuk menepikan orang – orang tempatan.

Roda pembangunan yang bergerak cepat sedang berhadap-hadapan dengan mereka pada arah jam 12. Meski klakson-klakson telah dibunyikan, namun tak secepat itu orang-orang tempatan akan beranjak. Roda itu pun menggilas mereka tanpa ampun.

Ada solusi untuk memindahkan penduduk Jodoh ke suatu kawasan pemukiman di tiga titik yakni Kampung Utama, Baloi Indah dan Pelita, tapi rencana ini tidak mulus karena alasan aksesibilitas.

Kondisi itu memicu ketegangan demi ketegangan, terutama ketika pedagang pasar Jodoh menolak dipindahkan ke sentra bisnis Nagoya yang baru saja dibangun dan mahal. Dari suara pedagang terdengar keluhan, Nagoya tidak seramai Jodoh untuk orang singgah berbelanja.

Akan halnya para nelayan tradisional dari tipikal Melayu yang tak banyak keletah, yang telah turun temurun mengais rezeki di perairan Jodoh, meminggir ke pulau-pulau berhampiran, demi meneruskan “kutukan” sebagai nelayan seumur hidup.

Ada jerit pilu di sanubari para pencari udang dan ikan secukup makan itu. Tanah waris Jodoh yang menyimpan sejarah dan rindu dendam masa silam, akan mereka persembahkan demi sebuah pesta berjudul pembangunan, yang entah untuk siapa gerangan.

Dalam prosesnya apakah disengaja atau tidak, Jodoh dilalap api. Peristiwa ini disebut “Kebakaran Jodoh Pertama” (1981). Di masa Orde Baru hampir tiada yang berani mengarahkan telunjuk ke muka petinggi. Kalau banyak cakap, apalagi melakukan aksi protes bisa-bisa tertuduh makar dan dijerat Undang-undang Anti Subversif.

Untuk peristiwa kebakaran Kampung Jodoh, jika coba menarik benang merah seolah-olah ada yang sengaja menyulut api karena penduduknya enggan dipindahkan, sebaiknya diam saja jika tidak ingin urusan jadi panjang. Perkara Jodoh sengaja dibakar atau tidak hanya menjadi bisik-bisik sunyi dan pelan-pelan lenyap bersama waktu.

****

Kebakaran Jodoh pertama dinyatakan sebagai “proyek gagal”. Dalam waktu dua tahun Jodoh pulih seperti sedia kala, bahkan makin berkembang hingga menyikut Nagoya. Tidak ada bukti otentik yang muncul ke permukaan sejarah untuk menegaskan adanya tangan – tangan tak kentara yang sengaja mengirim api. Tapi orang – orang lama Batam selalu menyimpan curiga. Pada 1983, Jodoh terbakar untuk kedua kalinya, sebuah kebakaran besar yang tidak menyisakan apapun.

Peristiwa kebakaran Kampung Jodoh yang kedua dapat diriwayatkan seperti begini: Hanya beberapa jam kawasan Jodoh yang terdiri dari empat kampung itu sudah menjadi lautan api. Kobaran api yang begitu ganas itu memberangus semuanya.

Tiupan angin laut yang kencang ditambah keadaan rumah yang hampir seluruhnya berdinding papan dan beratap rumbia, menjadi makanan lahap bagi api, seperti melahap ranting kering. Orang – orang malang itu berlarian ke sana kemari, mencari sanak saudara masing-masing. Tidak sedikit yang hanya dapat menyelamatkan kain sarung, bertelanjang dada, atau hanya bersempak. Keadaan benar-benar sulit dikuasai, serba hiruk pikuk.

Warga yang berumah di pinggir pelantar, spontan melompat ke laut kemudian berenang menjauh dari jilatan api. Beberapa nyawa tidak bisa diselamatkan, mereka terjebak dalam amukan api saat sedang pulas. Sebagian lagi digotong sebab menderita luka bakar serius dan akan cacat seumur hidup.

Spekulasi bermunculan soal musabab kebakaran. Katanya berasal dari percikan api di rumah genset yang berhampiran dengan rumah penduduk. Tapi banyak yang mengaku mencium bau bensin pada sumber api. Kabar lainnya, api yang mengamuk pada malam jahanam itu, konon berawal dari sebuah gubuk di Kampung Boyan, lokasinya kini di sekitar Mesjid Baitussyakur.

Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Jawa, Kampung Boyan serta Pasar Jodoh sudah lenyap dalam semalam. Tidak ada yang berani buka mulut. Jangan menyanyah, ini zaman orde baru, zaman di mana mulut harus dikancing rapat-rapat. Tapi menjadi sangat kebetulan, ketika di atas puing-puing Jodoh kemudian didirikan sentra bisnis yang ternyata telah dicanangkan jauh-jauh hari.

Teori tata kota yang dipraktikkan para rezim selalu berujung pada pemaksaan kehendak, ketika rakyat sulit dijinakkan. Sebagaimana sistem kolonial, orde baru secara umum mengambil politik represif dan meneruskan sistem kapitalisme yang dikembangkan Belanda.

Atas nama kepentingan negara mereka menghegemoni masyarakat dengan cara-cara terselubung. Meski tidak seganas orang Kulit Putih ketika meng-genosida suku Indian, Maya, Aztec dan Inca di Amerika, Aborigin di Australia atau Maori di Selandia Baru, namun tujuan untuk menyepak penduduk lokal sudah pun berhasil dijalankan.

Jodoh lama telah luluh lantak, tidak ada sepuing heritage- pun yang tersisa untuk kemudian dipatut – patut dalam sejarah kota ini.

****

Hingga awal 90 – an, denyut pembangunan Batam makin terasa. Kawasan Jodoh dan Nagoya mulai ditumbuhi berbagai fasilitas dan penanda kota. Jalan-jalan protokol dibangun untuk membuka isolasi antarpelabuhan dan sarana vital lainnya.

Beberapa titik strategis berubah menjadi sentra urban yang paradoks. Batam secara mengejutkan menjadi satu-satunya kota baru di Indonesia yang tumbuh dengan akselerasi tinggi. Selain sentra industri, pusat-pusat membeli belah dan hiburan membiak bagai cendawan di musim hujan. Dari kejauhan Batam terlihat makin memesona. Ia pun diserbu, ada yang datang dengan skill memadai, namun tidak sedikit hanya bermodal tiket sekali jalan.

Di masa itu, Batam yang secara de facto mulai menerapkan pola-pola free trade zone (FTZ) demikian terjaga dari kekacauan estetika seperti menjamurnya rumah-rumah liar atau penumpukan besi – besi tua. Setiap jengkal tanah di bumi Melayu ini, otomatis menjadi milik penguasa untuk dipersembahkan kepada investor. Siapapun tidak dibenarkan menempati lahan tanpa izin atau berhadapan dengan Direktorat Pengamanan yang mirip tentara.

Pendekatan militeristik adalah sebuah copy paste dari cara-cara kolonial dalam membidani kota. Karena belum ada acuan yang lebih humanis, sehingga upaya-upaya yang dinilai menghambat kebijakan rezim akan diselesaikan dengan tangan besi.

Orang-orang tempatan yang hidup merempat di lahan-lahan strategis kemudian dibersihkan seperti membersihkan bibir pantai dari hutan mangrove, sebelum direklamasi. Sagu hati atas lahan dan kebun-kebun warisan mereka hanya dibayar beberapa perak, supaya tidak kelihatan seperti merampas.

Lembaga otoritas menciptakan fait accompli sedemikian rupa atas selubung pembangunan, namun kemudian tanah Batam dialokasikan lagi pada segelintir orang. Ratusan ribu haktar lahan kini berada dalam cengkeraman gurita bisnis tertentu dan sisanya dibiarkan terbengkalai oleh para mafia tanah. Kondisi ini memenuhi prinsip Hukum Pareto: 20% dari cacat sistem menyebabkan 80% masalah.

****

Dari pohon historia terpetiklah sebuah hikayat tentang Kampung Tua Jodoh. Jodoh adalah tanah pertarungan dua pendekar mandraguna sekaligus tanah perjodohan. Tersebutlah kisah perseteruan seorang hulubalang yang berasal dari Galang Ladi bernama Awang Sandang dengan Panglima Sampit dari Sulawesi.

Pertikaian memuncak ketika Panglima Sampit berjaya mempersunting Puteri Mayang yang mulanya adalah kekasih Awang Sandang. Keduanya sepakat berkelahi sampai mati, namun segera dapat dilerai sehingga perjodohan antara Panglima Sampit dengan Puteri Mayang pun berakhir di pelaminan.

Awang Sandang menaruh dendam kesumat dan berencana membuat rusuh. Sampai akhirnya ia dan pasukannya berhasil menguasai Jodoh dan membunuh petinggi negeri. Awang Sandang pun membawa lari Puteri Mayang. Ia sempat membuat hal tak senonoh pada Puteri Mayang sehingga kekuatannya menjadi sirna. Kemudian dengan mudah ia dapat ditewaskan oleh Panglima Sampit.

Berabad setelah itu, nama untuk Kampung Jodoh dikukuhkan. Kampung pesisir berpasir putih ini pertama sekali diberi nama Jodoh pada saat berada atas perintah Yang Dipertuan Muda Riau (YDMR) X, Raja Muhammad Yusuf (1858), dalam kepenghuluan yang berpusat Kampung Melayu.

Hikayat Kampung Jodoh tinggal ingatan. Jodoh lama, ibarat gadis buruk rupa yang tak pandai bersolek. Ia harus rela binasa jadi arang dan digantikan dengan Jodoh baru. Jodoh baru itu ibarat gadis pesolek yang tak segan bergelayut manja di lengan lelaki pemetik bunga.

Para pelaku sejarah Batam yang mengambil peran antagonis sebagai reinkarnasi Kaisar Nero menjadi tampak sangat naïf ketika hasil pekerjaan tangan mereka tidak membawa maslahat. Kampung Jodoh dimusnahkan dengan maksud menata dan memegahkan kota, tapi nyatanya tapak-tapak yang terbakar itu lebih banyak menjadi tempat wanita malam melakukan transaksi syahwat bergelimang ekstasi. Atau tempat Apek Singapura menitipkan gundik seksi. ~MN Tahar (2018)

 

Print Friendly, PDF & Email